Tampilkan postingan dengan label ROTOR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ROTOR. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Juni 2011

10 Album Metal Lokal Terkeren Versi Daniel "Deadsquad"



Ini dia 10 album metal
lokal yang menurut Daniel
Mardhany, vokalis
Deadsquad, berhasil
menstimuli "wabah" bagi
skena musik metal di Bumi Pertiwi.

1. Rotor - Behind the 8th
Ball
.
"Konon, Max Cavalera pun
sempat tercengang
mendengar ritem "gergaji"
Irvan (gitar). Buat gue, ini band paling 'kejam' pada
eranya!

2. Dead Vertical - Infecting The World
"Ini album yang, menurut
gue, membuat grind core kembali 'ereksi'. Komposisi
lagu-lagu mereka
dipastikan selalu dapat
menyulut api adrenalin di
circle pit !

3. Siksa Kubur - Eye Cry "Album yang membawa
SK ke podium tertinggi
death metal lokal pada
eranya. Aransemennya
cerdas!"

4. Forgotten - Tiga Angka Enam
"Mungkin ini adalah album
death metal pertama di
skena lokal yang liriknya
bisa dinyanyikan secara
sing-a-long . Karena kedahsyatan lirik Bahasa
Indonesia sarkastik
bikinan Addy Gembel
itu,banyak band lokal
yang termotivasi
membuat lirik dengan Bahasa Indonesia yang
'dalam' dibanding dengan
Bahasa Inggris yang
'cetek'....

5. Betrayer - Pasukan
Berani Mati

"Membuat thrash metal
menjadi mudah didengar,
seperti mendengarkan
musik pop...!"

6. Bloody Gore - Stench of Your Perversion
"Salah satu band brutal
death metal Indonesia
yang paling terkenal di
blantika death metal
global.Salah satu band
yang mempopulerkan wind guttural growl ,
yang terdengar seperti
campuran antara suara
angin, babi dan harimau.
Hehehe...."

7. Burgerkill - Beyond Coma & Despair
"Warisan terakhir dari
salah satu vokalis metal
paling
kharismatik,mendiang
Ivan Scumbag. Salah satu album dengan sound
terbaik di Indonesia. Dan
ini tidak hanya berlaku
dalam lingkup metal saja!

8. Eternal Madness - Abad
Kegilaan
"Dunia perlu tahu band ini!
Salah satu band paling
orisinal di dunia. Mereka
berhasil memadukan death
metal dengan nada-nada
etnik Bali yang dapat membuat bulu kuduk
merinding!"


9. Jasad - Annihilate The
Enemy

"Lewat album ketiga ini,
salah satu band sesepuh Ujung Berung ini berhasil
menginvasi skena death
metal dunia, khususnya
Amerika. Album yang
artwork -nya digurat
Jonzig (yang juga mengerjakan album
Suffocation, Disgorge dan
lain-lain) itu banyak meng-
influece band-band dunia
dan cukup mendapat
pengakuan dari brutal death freaks global.

10. Deadsquad - Horror
Vision

"Death metal yang cukup
rumit dapat terasa easy
listening lewat komposisi yg dikemas sedemikian
rupa. Walaupun tidak bisa
dikatakan simpel.Cukup
lah buat memacu benih-
benih iblis cilik untuk
mengasah skill bermusik mereka. Hahaha!"


Boleh setuju boleh tidak,
yang jelas daftar di atas
nggak dibuat berdasarkan
urutan tertentu. Silakan
dicari lalu dikoleksi!

Selasa, 31 Mei 2011

Rotor, Legenda Thrash Metal Indonesia Bangkit Lagi



Jika kalian mengira bahwa
Indonesia tidak mempunyai
band thrash metal
legendaris, maka sangat
salah. Karena Rotor grup pengusung thrash metal
asal Jakarta ini kembali
bangkit dari kuburnya
selama bertahun-tahun dan
siap berotasi kembali.

Band yang terbentuk
tahun 1991 ini merupakan
dedengkot musik metal dan
menjadi legenda di
Indonesia. Dan mereka kali
ini kembali mengeluarkan rilisannya walaupun bukan
rilisan baru. Mereka merilis
ulang album 4 lamanya,
BEHIND THE 8TH BALL (1992),
ELEVEN KEYS (1995), NEW
BLOOD (1996), MENANG (1997) yang telah di
remastered. Dan dikompilasikan menjadi
dua CD berisi 35 lagu dalam
satu kemasan.

Album ini mungkin
menjadi koleksi wajib para
metalhead tanah air,
pasalnya album-album lama
mereka yang masih format
kaset sudah langka di pasaran.

Single-single seperti Nuclear Solution, Behind The 8th Ball, Pluit Phobia, Eleven Keys juga terdapat di album diskografi ini. Tak hanya itu saja album ini juga mencantumkan lagu- lagu yang belum pernah dirilis saat AlmJody yang juga mantan suamiAyu Azhari ini mengisi vokal.

Dan kabar yang
mengejutkan lagi band
yang pernah menjadi
pembukaMetallica dan welcome showSepultura ini kabarnya bereuni
kembali dan segera
melakukan perjalanan tur
Eropa untuk mengenalkan
kembali musiknya di sana.
Dan di tahun 2011 ini Rotor akan melakukan tur di beberapa kota di
Indonesia.


Rotor sebelumnya sempat vakum di tahun 1998
karena beberapa
personelnya meninggal
akibat overdosis obat-
obatan. Personel asliRotor saat ini hanya menyisakan M Irvan Sembiring (gitaris) yang juga menjadi
pendakwah setelah
membubarkanRotor. Dan kali ini mereka siap untuk
kembali menyerukan metal
di Indonesia. (kpl/faj)


sumber : Kapanlagi.com

Sabtu, 19 Maret 2011

ROTOR - Behind The 8th Ball (1992)

Behind the 8th Ball


Formed In 1991
Indonesia (Jakarta)
Genre(s) : Trash Metal
Lyrical Theme(s) : Social/Politics Issues, Nuclear War

Full-length, Aquarius Musikindo
1992

Tracklist:
1. Behind The 8th Ball
2. Beyond The Eyes Of Pain
3. Curse Of Leak
4. The Last Moment
5. Spontanuous Live
6. Nuclear Is The Solution?
7. PluitPhobia
8. Hate Monger
9. Dismal Picture of mankind
10. Gatholoco


Kamis, 10 Februari 2011

Perubahan Hidup Irvan Rotor (Pentolan Grup Metal Rotor)



Berpakaian gamis, sorban
dikepala selalu melekat
dikepalanya, dan berjalan tegap
kearah masjid jika sudah masuk
waktu sholat, itulah keseharian
Irvan Sembiring saat ini, waktunya dia habiskan untuk
mengabdi kepada Alloh Swt,
berbeda sekali dengan
keadaannya pada 20 tahun silam,
dimana pada waktu itu dia masih
menjadi pentolan grup Band Rotor, kesehariaannya yang
urakan dan jauh dari masjid.
Itulah sekelumit keadaan Irvan
Sembiring saat ini, wajahnya
yang ganteng, ditambah janggut
yang menggelayuti dagunya. Wajahnya makin bersinar, karena
wajah itu selalu disirami oleh air
wudhu setiap saat. Ini adalah
kisah nyata, kebetulan saya
pernah tinggal dekat dengan
Irvan, jadi secara garis besar saya tahu benar keseharian dia.
Anda mungkin bertanya-tanya
siapa Irvan Sembiring itu, melalui
tulisan ini saya mencoba untuk
menjelaskan secara lebih dalam
mengenai sahabat saya ini. Irvan merupakan mantan frontman
grup thrash metal, dia juga
merupakan pionir Rotor, Grup
Band yang mengusung aliran
thrash metal. Rotor cukup
terkenal pada era 90-an, karena Band ini termasuk Grup Band
dengan aliran thrash metal yang
pertama kali rekaman. Irvan
merupakan pendiri dan
pentolan Rotor, bersama Rotor
dia pernah menjadi supporting act konser supergrup Metallica
selama dua hari berturut-turut
di stadion Lebak Bulus, Jakarta.
Dengan menjadi Band pembuka
pada konser Metallica tersebut,


maka nama Band Rotor makin dikenal luas bagi pecinta musik
metal. Sudah empat album
ditelorkan
oleh Rotor, diantaranya : Album
Rotor – Behind The 8th Ball (1992), Album Rotor – Eleven Keys (1995), Album Rotor – New Blood (1997), Album Rotor – Menang (1998). Namun, semenjak
Irvan memilih jalan hidup menjadi
pendakwah, atau biasa
masyarakat menyebut sebagai
Jamaah Tabligh, maka lambat
laun dia mulai memendam profesinya sebagai pemain musik,
walaupun belum sepenuhnya
dunia musik dia tinggalkan.
Ditambah lagi dua personilnya
sudah meninggal, dan saat ini
Rotor hanya dihuni oleh dua personil sisa, yaitu irvan sendiri,
dan bakar sang Drummer. Oh iya,
Irvan juga mantan gitaris Sucker
Head, sebuah Grup Band
beraliran metal juga. Saat ini
masjid menjadi rumah bagi Irvan, karena sehari-hari dia
akan berada disana, walalupun
bukan pada waktu-waktu sholat,
ketika saya tinggal di cinere,
yang tidak jauh dari rumahnya
yang berada di Komplek AL, maka saya banyak mengetahui segala
kegiatan hariannya. Dia biasa
melaksanakan sholat lima waktu
di masjid Al-Ittihat Blok-A
( Perumahan di seberang Cinere
Mall), atau di masjid Imam Bonjol (komplek AL). Masih gatel bermain
gitar
sesekali (Koleksi Pribadi) Itulah
aktifas dia saat ini, hari-
harinya dipenuhi dengan ibadah.
Kalau tidak sholat, dia akan berdakwah, atau menemani
jamaah-jamaah dakwah yang
datang ke cinere. Jika ada
jamaah dakwah, maka bisa
dipastikan dia tidak akan berada
dirumah, tapi selalu berada di masjid.

Metalhead mana di Indonesia iniyang tak kenal Rotor ?



Berangkat dari sempalan grup
Sucker Head di awal decade 90-
an, band trhash metal local yang
pertama kali rekaman ini makin meroket namanya setelah sukses
menjadi supporting act konser
supergrup Metallica selama dua
hari berturut-turut di stadion
Lebak Bulus, Jakarta. Rotor
sempat lama mengadu nasib di negeri Paman Sam, namun
frustasi ketika tahu mesti
bersaing dengan 40.000 band
metal serupa yag juga tengah
berburu kontrak rekaman di
sana. Selama delapan tahun karier musiknya, Rotor
menelorkan empat album di tiga
major label berbeda : AIRO,
Hemagita dan Warner Music
Indonesia. Sebelum resmi bubar,
basis Rotor (Judapran) tutup usia karena drugs. Belakangan,
mantan vokalis mereka (Jodie,
vokalis Getah) yang kharismatik
juga meninggal dunia. Tersisa kini
tinggal sang pendiri sekaligus
gitaris Rotor, M. Irvan Sembiring, yang telah menggantungkan gitar
untuk selamanya dan menekuni
lembaran hidupnya yang baru
sebagai seorang pendakwah!
“kalaupun ada yang berani modalin, Rotor nggak bakal reuni
sampai kapan pun juga” tegas Irvan. Sejarah berdirinya Rotor
memang nggak bisa dilepaskan
dari nama besar Sucker Head.
Band thrash metal pionir yang
dibentuk akhir era 80-an tersbut
awalnya memang rumah bagi gitaris Irvan Sembiring. Diakhir
tahun 1990 setelah konser di
Kresikars (pentas seni SMA 82) ia
hengkang dari Sucker Head untuk
membentuk Rotor bersama Seto
(gitar), Didik (bas) dan Bakkar Bufthaim (dram). Didik dan Bakkar
sebelumnya merupakan personel
One Feel Band yang juga
merupakan nama sebuah studio
ngetop di bilangan Cilandak,
Jakarta Selatan. Menurut Irvan yang ngasih nama Rotor waktu
itu adalah Seto. “Biar kesannya musik Rotor itu cepat kayak
baling-baling pesawat”. Hengkangnya Irvan dari Sucker
Head sempat menjadi buah bibir di
kalangan anak metal (catat :
istilah underground dulu belum
popular) ibukota saat itu. Namun
ia menyanggah kalau dirinya cabut karena terlibat friksi
dengan personel yang lain “Gue cabut dari Sucker Head karena
pingin menggeber musik metal
yang lebih ngebut dan ekstrem,
sementara Nano (gitaris kedua
Sucker Head) cendrung
terpengaruh Iron Maiden, lebih heavy metal”. Ujar cowok kelahiran Surabaya, 2 maret
1970 ini buka kartu. Walau
dibentuk di Jakarta namun
panggung debut Rotor justru
terjadi di Taman Topi, Bogor,
dalam pergelaran rock yang digeber oleh sebuah radio swasta
disana, kuartet thrasher ini
menggung bareng sejawat metal
di Jakarta, diantaranya Atomic
dan Allen Scream. Kala itu mereka
masih mengusung repertoar milik Sepultura. “Sepultura-nya di album Schizophrenia”, kenang Irvan. Tepat setelah manggung
pertama, dua orang personel
Rotor mengundurkan diri dari
band. Seto masuk menjadi gitaris
Sucker Head dan Didik bergabung
menjadi bas Roxx. “Seto Cuma sempat lima kali manggung
bareng Sucker Head untuk
menjadi band pembuka konser
Slank, setelah itu dia cabut juga
disana.” Sampai sini, Rotor yang tinggal dihuni dua personel itu
kemudian untuk yang kedua
kalinya manggung di kampus
“Metal” milik pujanggawan Sutan Takdir Alisjahbana yang terletak
di bilangan Pejaten; Universitas
Nasional. “Ketua panitia acaranya saat itu si Ucok Batara (mantan
vokalis Edane)”. Sayang, Irvan lupa siapa yang bermain bas di
Rotor pada waktu itu. Pertama ia
bilang Judapran (mantan basis
band epigon GN’ R, Razzle) namun kemudian segera diralatnya “Kalo nggak salah pemain basnya Ucok
‘ Ngantuk’ . Tapi dia nggak tahu lagunya Rotor, Cuma asal main
saja. Pokonya panteng di kord E
terus, pasti masuk. Thrash
metalkan kebanyakan kordnya
disitu aja. Uniknya, ketika hal ini
dikonfirmasi langsung kepada Ucok ‘ Ngantuk’ keesokan harinya, gitaris yang sekarang
bermain di Brain The Machine ini
membantah “Gue memang pernah ikut audisi sebagai basis Rotor. Itu
juga di studio, bareng kandidat
lain, tapi nggak pernah manggung
dengan Rotor.” Singkat kata, setelah Juparan resmi bergabung
dengan rotor, trio ini lantas
menggarap demo tape dengan
system rekaman live si studio One
Feel. Jangan bayangkan demonya
keren kayak zaman sekarang. Demo tape Rotor itu masih
tradisional banget “Cuma dua track, left- right, isinya gitar dan
dram doing, nggak ada vocalnya.” Bermodalkan kaset demo
“primitife” itulah Irvan nekad menawarkan konsep musik
mereka ke label-label rekaman
besar yang ada di ibukota dan
ternyata… gagal !! Nggak satupun label tertarik untuk mengontrak
band dengan musik se-ekstrem
Rotor pada waktu itu. Kredo bagi
anak metal adalah pantang
frustasi! Semboyan ini amat
dipercaya oleh Irvan yang memang ia akui sendiri punya
watak keras dan ambisius. Tak
lama setelah “penolakan- penolakan” tadi, Irvan yang supel ini bertemu dengan Pay Siburian
(waktu itu masih gitaris Slank)
dan vokalis rock (almarhum) Andy
Liani. Pergaulannya dengan para
rock star local itu tentu dengan
harapan bias mengenjot nama Rotor ke level selanjutnya
”waktu itu anak-anak lain kayak Armand maulana, Thomas, Baron
(Gigi), Anang dan Kidnap Katrina
masih ‘ gembel. Yang udah jadi superstar suma Slank doang.
Anang sendiri dulu belum pacaran
sama Krisdayanti, baru didemenin
aja.” Kenang Irvan sembali tersenyum. Proses bergaulnya
Irvan dengan rocker-rocker old
skool ibukota tadi cukup gila-
gilaan. Ia mengatakan, “zaman dulu kalau udah nongkrong, bisa
dua minggu
lamanya gue baru pulang
kerumah. Bawa gitar dan ampli
kecil gue hidup nomaden dari satu
studio kestudio lainnya. Ngikutin Pay sama anak-anak aja,
misalnya hari ini garap Anggun (C.
Sasmi) dan Anang di Studio Triple-
M, besoknya Ita Purnamasari di
studio JK di Pluit, gitu terus.” Berkat jasa Pay, di awal 1992
Irvan ditemani Andy Liani lantas
bertemu Seno Adjie, bos label
rekaman AIRO. Di depan adik
kandung maesenas Setiawan
Djody itu, Irvan cuek saja menyetel demo tape primitif tadi.
Seketika juga Seno binggung pas
tahu demo tape itu masih
instrument dan nggak ada
vocalnya. “Gimana mau nilainya, nih?” kata Irvan menirukan ucapan Seno. “Ya udah (kasetnya) di rewind aja,” balas Irvan enteng. Walhasil , begitu
tape dimainkan dan musik
berkumandang, “bernyanyilah” Irvan secara live di depan calon
produser Rotor tersebut. “Gue teriak-teriak kayak orang gila di
dalam ruangan dia. Mas Seno
Cuma benggong dan geleng-
geleng kepala, sementara Ali
Akbar dan Andy Liani pada
ketawa-tawa.” Kenang Irvan bangga. Kebetulan, nggak lama
kemudian Setiawan Djody
mengundang band thrash metal
Brasil, Sepultura untuk menggelar
konser di Jakarta dan Surabaya.
Mendengar pahlawan metal pujaannya bakal datang, Irvan
langsung saja menyatroni raja
tanker itu di kantornya untuk
mendaftarkan Rotor sebagai
supporting act Sepultura,
menurut Djody, Irvan CS kalah cepat dengan Eet Syaranie dan
Ecky Lamoah dari Edane, “Kalau kamu datangnya sebulan yang
lalu aja, pasti bisa. Tapi sekarang
kita udah teken kontrak sama
Edane,” tukas Irvan menirukan ucapan Djody. Sukses membuka
konser Metallica di stadion Lebak
Bulus, Rotor keesokan harinya
diundang untuk ikut dalam
farewell party yang
diselenggarakan di Hard Rock Café Jakarta. Sempat terjadi
“insiden” kecil antara Irvan dengan Kirk Hammet waktu itu.
Ceritanya begini, ketika
nongkrong di satu meja, gitaris
Metallica yang berambut kriwil iru
menawarkan makanan kepada
Irva. Dasar orang melayu, Irvan menolak dengan haluis
tawaran Hammet tesebut. Melihat
tawarannya ditolak, kontan saja
Hammet marah dan meninggalkan
meja makan. “Dia salah interprestasi. Kebiasaan orang
Indonesia kan kalo ditawarin
sesuatu pasti nggak langsung
diterima, rada sungkan gitu,
belakangan baru deh disabet
hehehehe… ,” kata Irvan terkekeh. Babak baru perjalanan
sebuah band thrash metal local
bernama ROTOR dilanjutkan
dengan hijrahnya Irva, Jodie dan
Judha ke Los Angeles, Amrik. Di
Kota yang terkenal ke seluruh dunia sebagai salah satu
episentrum industri musik rock
dunia mereka coba mengadu
nasib dengan harapan bisa
mengikuti jejak Sepultura, band
Brasil yang sukses menembus Amrik. Saat itu tinggal Reeve saja
yang masih stay di Indonesia “Dia baru belakangan nyusul kita ke
Amrik.” Reeve ternyata nggak nyangka kalo orang Indonesia itu
ramah-ramah, apalagi cewek-
ceweknya. Selama besar di Amrik
dia kan selalu berhadapan dengan
bule-bule yang angkuh. Dramer
Rotor itu sebenarnya sempat mampir ke Los Angeles menemui
personel yang lain, namun ia cuma
bertahan dua hari saja dan
setelah itu malah kembali ke
tanah air. Menurut Irvan, itulah
pertemuannya yang terakhir dengan Reeve karena setelah itu
ia mengaku nggak pernah
bertemu apalagi melakukan
kontak dengan Reeve.
Akhirnya Irvan kemudian
mengambil kesepakatan bersama para personel yang lain untuk
mencari pengganti Reeve. Episode
selanjutnya, bertemulah Rotor
dengan Rudy Soedjarwo, seorang
musisi serba bisa yang juga anak
mantan Kapolri yang tengah kuliah bisnis manajemen di sebuah
perguruan tinggi di sana. Rudy
yang kini ngetop menjadi
sutradara film “Ada Apa Dengan Cinta” inilah yang kemudian menjadi Dramer Rotor. Irvan
mengakui bahwa hidup sebagai
seorang musisi pendatang di
Amrik adalah sebuah tantangan
yang amat berat. Menurut suami
Indah (mantan gitaris band metal cewek Joystick) orang Amrik itu
tergolong super cuek “Mereka nggak perduli ada yang salah
dengan cara ngebandnya,” ujar Irvan seraya menambahkan
bahwa mencari popularitas bagi
band di Indonesia jauh lebih
mudah dibandingkan di luar
negeri. “Pesaingnya ketat banget di sana. Bayangin aja, band metal
yang punya musik sama dengan
Rotor dan lagi mencari kontrak
rekaman jumlahnya ada 40.000-
an band waktu itu.” Ketika berada di Amrik, Rotor juga
hanya beberapa kali saja
manggung di sana dan itu pun
masih di lingkungan komunitas
orang Indonesia juga. “Nggak gampang mendapat job manggung
kalo band nggak punya agency di
Amrik,” ujar Irvan menceritakan pengalamanya. Melihat kondisi
yang nggak begitu bersahabat
dengan musisi pendatang ini Irvan
mengaku tetap mencoba
bertahan demi memujudkan
impiannya bisa membus Amerika!. Agar bisa bertahan hidup dalam
jangka panjang di Amrik, Irvan
mengaku tergolong paling hemat
diantara personel2x yang lain.
“anak-anak yang lain sering banget keluyuran dari satu pub
malam ke pub malam yang lain,
termasuk nongkrong di pub
Rainbow yang sering didatengin
artis-artis bokep kayak Joe
Rivera, Ron Jeremy sampai Savannah,” seru Irvan seraya menambahkan kalau dirinya lebih
memilih untuk membuat lagu baru
di studio milik Rudy dibandingkan
nongkrong2x di Pub yang banyak
mengeluarkan biaya. Selain rajin
mengirim 200 promo tape album Behind The 8th ke berbagai label
rakaman-label rekaman yang ada
di Amrik, Irvan juga intensif
mamantau perkembangan musik
di sana dari berbagai majalah-
majalah musik atau jika ada waktu lengang meluangkan waktu
menonton konser band-band
metal local di pub. Ia
menambahkan bahwa sebenarnya
ada 3 label rekaman independent
di sana yang tertarik untuk merilis ulang album debut Rotor
tersebut. “Kesalahan kita justru karena portfolio mencantumkan
pernah membuka Metallica berarti
kita sudah dikontak oleh label
besar di Indonesia,” ujarnya rada menyesali. “Mereka bersedia mengontrak kita asal ada surat
keterangan dari AIRO bahwa label
mereka hanya beroperasi di
Terotori Indonesia saja dan bukan
seluruh dunia. Sayangnya, pas
kita kontak ke tanah air, pihak, AIRO terkesan nggak suportif
merespon hal ini. “walhasil, amblaslah impian Rotor untuk bias
teken kontrak dengan label
rekaman Amrik. “Sebenarnya Cuma ada kemungkinan yang
bakal terjadi untuk musisi
pendatang yang pengen mengadu
nasib di Amrik. Semakin terpacu
semangatnya atau malah frustasi
karena melihat begitu ketatnya persaingan disana, “koar Irvan lagi. Sayangnya, justru hal yang
kedua lah yang terjadi pada
Rotor. Menepisnya kondisi
keuangan dan mental yang telah
patah arang membuat masing-
masing personel Rotor kemudian membanting stir untuk bias
bertahan hidup di negeri orang
dengan cara mereka masing-
masing. “Jodie pergi ke San Fracisco sementara Judha
berangkat ke Alabama untuk
bekerja di pabrik pengolahan
ayam. Gue sendiri saja yang masih
bertahan di Los Angeles" Rotor
kembali ke tanah air dengan tangan hampa. Jodie memutuskan
cabut dari Rotor dan membentuk
band baru, Getah. Rotor sempat
merilis tiga buah album dengan
arah musik yang berbeda,
sebelum akhirnya pemain bas mereka, Judhapran, meninggal
dunia karena ketergantungan
obat

ROTOR .... EPISODE MENARIK SEBUAHLEGENDA METAL INDONESIA




Aku
masih ingat pada tahun 1993
- 94, tahun yang begitu hebat
dalam masa pencarian jati diri
yang begitu kuat . nah di tahun itu juga aku mulai mencoba
mendapatkan info apakah atau
dalam pertanyaanku adalah ada
nggak band metal Indonesia yang
benar-benar metal ?? tidak
mesti selalu ada jawaban untuk ini,Lewat berbagai media seperti
majalah dan koran (tentunya
internet belum ada pada masa
ini) seperti majalah HAI yang
banyak berisi info tentang
metal ,memang pada masa itu belum terjawab secara tuntas
karena band yang bermunculan
notabene adalah metal yang
tidak powerfull seperti Rudal,
Valhalla atau yang terakhir
adalah Aceh rock band. Memang sih ada power metal tapi dulu
aku paling nggak puas jika ada
band yang membawakan
instrumen keyboard di dalamnya.
Dari kesemuanya itu belum bisa
dikatakan mereka itu 100% metal extreme tapi masih berbau
rock and heavy metal. Sebuah
penantian yang panjang akhirnya
album yang saya review ini
keluar “ behind 8th ball” , sebuah album yang sarat dengan
kontroversi dan melawan arus.
Bangga ??.... tentu sangat
bangga sekali. Di masa yang
begitu jarang band metal di
indonesia yang bisa rekaman secara mayor label, ternyata
rotor bisa menjawab pertanyaan
itu. Memang bukan kebetulan jika
mereka bisa mengeluarkan
sebuah album masterpice
sepanjang masa tapi karena pada tahun 92 an adalah masa
kebangkitan metal dunia dan
Indonesia di mulai dari Komunitas
kecil di berbagai daerah
terutama Bandung dan Jakarta ,
Surabaya dan Medan dan tak terkecuali Jepara belum
berkembang seperti sekarang.
Rotor tidak bisa dipisahkan dari
satu tokoh penting beliau adalah
Irvan sembiring (IRS), sebuah
nama yang fenomenal dan sangat dihormati dikalangan
metal di Indonesia. Dikemudian
hari beliau juga membuat proyek
besar yang melambungkan nama
metal Indonesia ke Permukaan
yang tak lain adalah “Metalik Klinik”. Personil pendukung yang setia adalah Bakar dan Judapran
(RIP). Emang sebelumnya mereka
sudah sering gonta ganti
personil. Bahkan setelah mereka
menjadi band pembuka Metallica
pada saat tampil di Jakarta pada saat itu vokal utama di isi oleh
Djody Gondokusumo (Vox pada
lagu Spontaneous live) yang
kemudian hari sebelum meninggal
membuat band ghotic “getah” dengan tyo nugros. Meski album “ Behind 8th ball “ musiknya sangat sederhana
namun untuk ukuran dulu adalah
sebuah masa yang sangat jarang
mendengarkan musik metal yang
keras ala sepultura dan sedikit
campuran metallica. Ada yang bilang aliran musik mereka
Thrash Metal namun ada juga
yang mengatakan
deaththrash.....setiap orang bisa
berbeda persepsi tentang
mereka. Khusus untuk lagu Gatholoco
yang berlirik bahasa jawa
memang menjadi lagu favorit
saya dulu, setiap sore saya stel
keras pake tape rakitan dikamar
dengan 2 salon speaker yang lumayan keras suaranya
He..he..he.. untung aja tetangga
serta orang tua di rumah udah
pada mahfum dengan
hobbyku.pas saat pita kaset
masuk ke lagu tersebut sedikit konyol dan kekanak-kanakan
volume tape rombeng langsung
ditambahi biar tambah kenceng,
tapi maklum namanya juga
bangga karena band ini kok
menyanyikan lagu jawa he...he...he.... dan lagu pluit phobia
yang masih sangat jelas
sejarahnya adalah pada tahun
1992 kepolisian yang masih
bergabung dengan ABRI
mengeluarkan undang – undang lalu lintas yang masih aneh dan
cenderung represif kepada
rakyat kecil ...dan Rotor dengan
sangat cerdas menangkap
fenomena sosial seperti ini
menjadi kritik dan umpatan lewat lagu (ini baru Metal bro !!!)
Sayang koleksi pita kasetku
untuk album ini udah lenyap tak
berbekas di ambil orang.Yang
tersisa adalah album eleven keys
doang.emang setelah mengeluarkan album yang
berbau industrial , rotor
mentransformasikan dirinya
lewat perenungan yang
mendalam lewat beberapa lagu
religi (Mungkin ini adalah pendewasaan spiritual dari IRS).
Tanpa mengurangi jasa mereka ,
Rotor tetap sebuah bukti bahwa
metal Indonesia pernah berjaya
dan tiada pamrih untuk berjuang
demi sebuah pandangan hidup yang Ideal.
Sangat beda jauh dengan masa
sekarang, dimana globalisasi dan
kemudahan menjadi sarana
penghancuran nilai penting dari
idealisme extreme metal.sebuah band metal atau yang ngaku
metal tak perlu bersusah payah
untuk mencetak uang tanpa
berusaha untuk menyampaikan
pesan dan kritik sosial secara
arif dan benar.....semua hanya demi ketenaran dan uang. FUCK
EMO (musik sampah) !!!!! tapi aku
nggak usah bersusah
payah untuk mengumpat dengan
keadaan sekarang, satu hal yang
kusyukuri adalah aku tetap begini dari dulu dan sekarang
tanpa mengganggu orang lain dan
menghujat secara verbal
kepihak lain....meski
kenyataannya justru musik yang
aku cintai ini menjadi bahan olok- olokan anak jaman saiki (sabar...
sabar, tetap yakin dengan hal
yang kuyakini) yang penting kalo
aku nggak suka ya nggak suka
dengan musik selain extreme
metal. Kalo situ nggak suka musik metal ya udah diam aja jangan
komplain itu baru namanya
dewasa crot !!!!

Total Tayangan Laman

theremon666@gmail.com
DOWNLOAD:
VOLTURYON - Coordinated Mutilation (2011) genre:Death orgin:Sweden BENIGHTED - Asylum Cave (2011) genre:Death/Grind orgin:France IMPRECATORY - Mortal Intestines Decay [2005] Genre(s) : Brutal Death metal Origin : Indonesia (Bandung) Band: Outlander Origin : Indonesia (Pontianak,West Borneo) Genre(s) : Slamming Brutal Death DEAD SQUAD - Horor Vision (2009) Indonesia (Jakarta) Genre(s) : Tech. Brutal Death Morbid Angel - 1989 -Abominations of Desolation Morbid Angel - 1991 - Blessed Are The Sick Morbid Angel - (1990) Altars Of Madness Morbid Angel - 1993 - Covenant Morbid Angel - (1995) Domination Morbid Angel - (1996) Entangled in Chaos - (Live) Morbid Angel - (2000) Gateways To Annihilation Morbid Angel - (2002) Tyrants From The Abyss (Tribute to Morbid Angel) Morbid Angel - (2003) Heretic Morbid Angel - (2005) Ignominious - Part REMON INSIDE™ Brutal Music Reviews

Cari Blog Ini

REMON INSIDE™ :
free counters