Tampilkan postingan dengan label warta berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label warta berita. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 April 2011

Gitaris Slayer Yang SakitNgotot Ingin Tampil diKonser Big 4 AmerikaSerikat

bassist/vokalis Slayer

Jakarta - Gitaris Slayer Jeff Hanneman
yang belum lama ini tengah cuti
dari Slayer karena sedang
berobat akibat mengalami gigitan
laba-laba beracun, menurut
bassist Tom Araya, sangat ingin untuk tampil di konser Big 4
yang akan digelar untuk
pertama kalinya di di Indio,
California, Amerika Serikat pada
hari Sabtu (23/4) ini.

“Dari yang saya tahu, dia memang ingin tampil lagi, tapi
kami tidak terlalu paham kondisi
dia yang sebenarnya sekarang.
Dia sepertinya sudah cukup
mampu untuk bermain gitar dan
itu lumayan membuktikan kalau ia sangat ingin tampil nantinya.


Pengobatannya berjalan lancar.
Ada dua luka yang menyebabkan
sakit di lengannya jika ia sedang
bermain gitar, namun ia sangat
ingin tampil dan kembali bersama kami di jalanan, coba lihat saja
nanti,” jelas Tom Araya ketika diwawancara oleh LA Weekly.

Posisi gitaris Slayer yang
sementara ini lowong sepeninggal
sakitnya Jeff Hanneman,
akhirnya selama tur konser di
Soundwave Australia sempat diisi oleh gitaris Exodus, Gary Holt.
Kemudian Gary
merekomendasikan gitaris
Cannibal Corpse, Pat 'O Brien
untuk mengisi kekosongan gitaris
sementara waktu.

Ketika ditanya mengapa Slayer
tidak semuanya ikut
berpartisipasi di atas panggung
saat ke empat band memainkan
“Am I Evil” di konser Big 4 di Sofia, Bulgaria, dengan santai
Araya menjawab bahwa dirinya
tidak tertarik untuk melakukan
hal itu.


“Saya tidak mau naik panggung dan mengacak-acak panggung
band lain (Tertawa). Lagipula
saya tidak suka lagu ‘ Am I Evil?’ … ..Jika kemarin mereka bilang, ‘ Hey, ada yang mau membawakan ‘ The Four Horsemen? Saya pasti
bergabung,” jelasnya lagi. Lalu jika hari Sabtu nanti James
Hetfield mendadak menghampiri
Anda untuk mengajak memainkan
lagu “The Four Horsemen”, apakah Anda akan berbeda
reaksinya?

“Reaksi saya pasti akan berbeda, oh ya, pasti itu,” cetus Tom singkat saja. (RS/RS)


sumber: Rolingstone indonesia

Anthrax Angkat Bicara Tentang Album Baru, Worship Music


Anthrax di atas panggung Big 4
di Warsawa (Foto: Andy
Buchanan)

Jakarta - Setelah selama 23 tahun berpisah
menggarap album studio dengan
Joey Belladonna maka tak lama
lagi Anthrax akan merilis album
studio terbarunya yang bertitel
Worship Music dengan vokalis asli mereka tersebut.

Worship Music awalnya tidak diisi
vokal oleh Joey Belladonna
melainkan oleh vokalis
sebelumnya Dan Nelson yang
bergabung sejak 2007. Namun ditengah jalan Dan dicampakkan
dan Joey diajak bergabung
kembali ke dalam Anthrax untuk
ikut di tur metal kolosal Big 4
dan meneruskan penggarapan
album ini.

“Ketika kami melanjutkan rekaman album ini bersama Joey,
lagu pertama yang ia nyanyikan
dan kami dengar langsung
membuat kami merinding.
Terdengar seperti Anthrax lagi – it was that ‘ sound’ again,” jelas drummer Charlie Benante
saat diwawancara oleh Rolling
Stone.


Benante juga menjelaskan bahwa
sebagian besar musik di album ini
masih berasal dari proses rekaman terdahulu yang mereka
ganti vokalnya dengan Joey.
Sementara gitaris Scott Ian
cukup banyak mengubah lirik-lirik
lagunya dan Benante sendiri
mengaku menciptakan ulang tiga atau empat lagu baru bagi album
ini.


“Kami kembali ke studio dan merekam ulang beberapa
lagunya. Ini karena sekarang
saya memainkannya dengan
energi yang berbeda, ada
semangat yang berbeda dari
lagu-lagunya. Saya ingin energi baru ini masuk pula ke dalam
album baru ini,” ujarnya.

Beberapa lagu yang sudah
selesai di antaranya berjudul
“Fight ‘ Em ‘ Til You Can’ t,” “I’ m Alive,” dan ada sebuah lagu yang sengaja diberi judul
“Judas Priest.” “Judul itu mungkin akan berubah, namun kami suka sekali
dengan judul itu, karena Judas
Priest telah menyatakan diri
bubar dan ini tentu akan menjadi
kebanggaan bagi mereka.

Kami
ingin mendedikasikan lagu tersebut bagi mereka,” imbuh Benante lagi.
Kabar lainnya, Anthrax bersama
Death Angel dan Hell Yeah (band
baru eks-drummer Pantera,
Vinnie Paul) rencananya akan
tampil bersama di Manila, Filipina pada 30 April mendatang dan
Bangkok, Thailand pada 2 Mei
mendatang di acara Sonic Attack. (wp/RS)

sumber : Relingstone indonesia

Andra and The Backbone, Netral dan Deadsquad Gelar Family Tour


Para personel Netral
berkolaborasi dengan Deadsquad
dan Andra and The Backbone



Jakarta - Tiga band yang berbeda genre musik 180
derajat namun memiliki akar
keluarga yang serupa akan
menghantam jalanan bersama
dalam tur konser bernama
SpiritGround.

Rencananya Andra and The
Backbone, Netral dan Deadsquad
akan berbagi panggung di 3 kota
yaitu di Lapangan D Senayan,
Jakarta (23 April), Lapangan
Rampal, Malang (1 Mei) dan terakhir di Solo (7 Mei).


Tur konser SpiritGround yang
akan digelar di tiga kota
tersebut terbuka untuk umum
(18+) dan gratis. Semua konser
akan dimulai pukul 19:00 WIB. Selain tur bareng, Andra and The
Backbone dan Deadsquad
rencananya juga akan tampil
berkolaborasi di satu panggung
membawakan nomor ”Master of Puppets” milik Metallica.

Menurut Andri, manajer
Deadsquad, kolaborasi
memainkan lagu ”Masters of Puppets” ini adalah permintaan khusus Andra Ramadhan, gitaris
sekaligus pendiri Andra and The
Backbone. Dan menurut Andri
lagi, ini baru pertama kalinya
Andra bermain dengan band lain
diluar Dewa19 dan Andra and The Backbone.


Sebelumnya pada tanggal 9 dan
17 April lalu di tur yang sama
(minus Andra and The Backbone)
Deadsquad juga sempat
berkolaborasi dengan Netral di Kendari, Sulawesi Tenggara dan
Lebak Bulus, Jakarta
membawakan lagu ”Garuda di Dadaku.”

Sebagai informasi, Deadsquad
merupakan sebuah band
bergenre technical brutal death
metal asal Jakarta yang para
personelnya terdiri dari
gabungan beberapa band rock papan atas nasional. Mereka
adalah Stevie Item (gitaris Andra
and The Backbone), Coki (gitaris
Netral), Andyan Gorust
(drummer, eks-Siksakubur),
Bonny (bass, eks-Tengkorak) dan vokalis Daniel.
Konser ini nantinya akan digelar
tanpa jeda MC, karena setiap
perpindahan set antar band
akan diisi dengan atraksi solo
masing-masing personel Deadsquad, Netral dan Andra and
The Backbone. (RS/RS)


sumber : Relingstone indonesia

Selasa, 19 April 2011

Anthrax Hampir Usai RekamAlbum Baru dengan VokalisAsli Joey Belladonna



Dalam wawancara dengan ArtistDirect.com baru-
baru ini, gitaris Anthrax, Scott
Ian menyatakan bahwa album
studio terbaru Anthrax hampir
selesai direkam.

Dan seperti yang telah
diumumkan sejak Mei 2010 silam
bahwa vokalis Joey Belladona
kembali bergabung dengan
Anthrax serta akan terlibat
dalam pembuatan album terbaru, setelah beberapa waktu
sebelumnya Joey terlihat sedang
bersama dengan pemain drum
Charlie Benante dan pemain bas
Frank Bello di konser Fozzy.

“Rekamannya hampir selesai. Joey telah bernyanyi. Dia telah
menyelesaikan sekitar tujuh atau
delapan lagu saat ini. Kami masih
punya beberapa trackyang
harus dikerjakan—gitar dan lead,” jelas Scott Ian soal perkembangan album baru
Anthrax.

Belum ada tanggal pasti
peluncuran album kesepuluh
Anthrax yang sempat
direncanakan akan diberi
judulWorship Music itu. “Saya pikir rekaman akan selesai dan
di-mix sebelum musim panas. Dan
kami berharap peluncurannya
pada musim gugur,” ungkap Ian soal album yang menurutnya
kemungkinan bisa diubah
judulnya itu.

Album kesepuluh Anthrax itu
sejatinya telah mulai dikerjakan
sejak akhir 2008 silam. Bahkan
Anthrax sempat mengumumkan
bahwa album itu akan dirilis pada
Mei 2009.

Keluarnya Dan Nelson (vokalis
Anthrax sejak akhir 2007) yang
kemudian digantikan oleh John
Bush—vokalis yang ikut melahirkan album Sound of White
Noise (1993), Stomp 442 (1995)
, Volume 8: The Threat Is Real
(1998) dan We’ ve Come for You All (2003).—untuk sementara waktu, membuat pengerjaan
album itu tidak jelas kapan
selesainya.

Pasalnya, rencana untuk
memakai John Bush sebagai
vokalis pada album terbaru pun
tidak pernah terlaksana karena
Bush tidak mempunyai sense of
belonging atas materi-materi yang telah dibuat bersama
Nelson.

Kabar lainnya, Anthrax bersama
Death Angel dan Hell Yeah
rencananya akan tampil bersama
di Manila, Filipina pada 30 April
mendatang dan Bangkok,
Thailand pada 2 Mei mendatang. Sayangnya, hanya Death Angel
yang kemudian mampir ke
Jakarta dan Bandung pada 8 Mei
nanti.

Sumber : rollingstone indonesia

Soundgarden Tak InginMembuat Album Grungeatau Metal



Soundgarden mengungkapkan bahwa album
terbaru mereka akan terdengar
berbeda dengan materi-materi
mereka sebelumnya. Walaupun
sempat tersiar kabar
sebelumnya mereka akan memasukkan materi-materi lama
yang diperbaharui, tapi
nampaknya hal ini tidak akan
terjadi. Gitaris Kim Thayil
mempunyai konsep tersendiri
untuk album terbaru Soundgarden.

Kim Thayil mengatakan kepada
majalah Kerrang!seperti
dikutip NME.com, “Kami ingin meyakinkan bahwa materi album
ini membuat kami senang. Hal
terakhir yang kami inginkan
adalah membuat album grunge
ataupun metal. Seluruh personel
ingin membuat album dengan materi yang membuat mereka
bergairah kembali untuk bermain
musik.”

Belum ada tanggal rilis pasti
untuk album dari band asal
Seattle ini tetapi mereka ingin
menyelesaikan album ini
secepatnya,
tetapi frontman Soundgarden Chris Cornell yang sedang
disibukkan dengan tur solonya
dandrummer Matt Cameron yang
juga tergabung dengan Pearl
Jam tentunya akan menjadi
pertimbangan yang perlu dipikirkan.

“Semua menginginkan untuk album ini keluar secepat mungkin,
tetapi untuk saat ini tidak ada
alasan untuk tergesa-gesa
melakukan sesuatu,” kata Thayil.(RS/RS)

Sumber : rollingstone indonesia

Konser Sepultura di ViradaCultural KampanyekanPelestarian PohonPernambuco



Jakarta - Band thrash metal Sepultura akan tampil dalam
festival musik dan seni tahunan
di Brazil, Virada Cultural, 16 April
mendatang. Dalam festival yang
akan berlangsung selama 24 jam
penuh itu, Sepultura akan tampil bersama grup orkestra Brazil
yang dipimpin oleh Jamil Maluf,
Orquestra Experimental de
Repertrio.

Sepultura akan tampil pada pukul
11 malam dengan membawakan
lagu-lagu yang telah
diaransemen khusus, serta
beberapa lagu yang belum
pernah mereka tampilkan sebelumnya. Penampilan itu juga
akan menjadi sebuah kampanye
untuk menyerukan pelestarian
pohon Pau Brazil—juga dikenal dengan nama kayu pernambuco— yang telah dicatat oleh Brazilian
Environmental Institute (IBAMA)
sebagai spesies tumbuhan
terancam punah.

Kayu pernambuco telah
digunakan sejak sekitar dua
setengah abad dalam pembuatan
biola dan instrumen musik lainnya
karena mempunyai kombinasi
kekuatan, fleksibilitas, kepadatan serta keindahan.

Virada Cultural telah menjadi
festival terbesar tahunan di Sao
Paulo yang disponsori oleh
pemerintah setempat sejak
tahun 2005. Festival yang
dimeriahkan oleh pertunjukan musik, drama, pameran seni dan
sejarah terinspirasi dari festival
sejenis di Paris, Nuit Blanche,
yang telah dimulai sejak 1997.
Tahun lalu Virada Cultural
tercatat berhasil menyedot 330.000 pengunjung.(RS/RS)

Sumber : rollingstone indonesia

Kamis, 31 Maret 2011

Isu Fiktif ! FPI MembubarkanDunia Musik Underground,hanya isu belaka,

Belum lama Media Asing “Al-Jazeera” memunculkan berita tentang Dewan Revolusi Islam (DRI) hingga menghebohkan seantero nusantara, berita tersebut meyakinkan bahwa Front Pembela Islam (FPI) berada dibalik rencana kudeta yang matang, parahnya juga dikait-kaitkan dengan Tragedi Ahmadiyah belum lama ini terjadi di berbagai wilayah di Indonesia yang sangat menyudutkan FPI.

Namun belum lama berita itu berselang, senin lalu (21/3) Media
Portal Asing “The Jakarta Post” kembali memuat berita palsu tentang pergerakan FPI ke dunia musik underground disaat publik masih panas dengan kampanye Pembubaran Ahmadiyah, yang memang didominasi oleh gerakan ormas-ormas Islam seperti FPI. Berita ini dinilai sebagai berita fitnah yang sangat menyesatkan umat.

Berita yang berjudul “FPI sets its eyes on underground music” yang di muat di halaman HEADLINES cukup menarik perhatian publik, dengan menuduh FPI yang berniat mengadakan perlawanan terhadap musik underground yang membuat munculnya beragam pernyataan, tudingan, kecaman, pro dan kontra, tidak lama setelah berita ini di publish ke dunia maya. Melalui berita ini pula banyak sekali anggota komunitas underground menjadi salah paham dan mengambil kesimpulan bahwa FPI akan membubarkan komunitas Underground.

Dituliskan bahwa anggota senior FPI yang dinilai sebagai ahli musik Islam, yang bernama Budi Fahri Farid menduga adanya gerakan mengaburkan ajaran Islam dengan berbagai aliran musik underground.

Padahal nyatanya, setelah ditelusuri lebih dalam, sepanjang Struktur Organisasi DPP – FPI dari dulu hingga kini tidak pernah ada yang bernama Budi Fahri Farid ahli musik Islam seperti yang disebutkan. Hal ini menguak kenyataan bahwa berita yang diangkat “The Jakarta Post” adalah fiktif dan menyudutkan dengan menuliskan bahwa FPI akan mengincar pembubaran dunia musik underground.

DPP – FPI memang mengadakan seminar mengenai realita perang pemikiran di komunitas musik underground, seminar ini berlangsung saat pengajian rutin rabu malam (16/3), di Majlis Ta’ lim Silaturahmi Al-Jabhah yang bertempat di Masjid Al- Ishlah Jl. Petamburan Raya 3 Tanah Abang, Jakarta Pusat,

Namun seminar ini bukan bermaksud untuk mengajak umat untuk memberikan perlawanan terhadap musik underground, seperti yang dituliskan “The Jakarta Post”. Justru sebaliknya, yang disampaikan dalam seminar ini adalah sejumlah paparan informasi bahwa musik underground saat ini sebagian didominasi oleh intrik Zionis namun hal ini juga menjadi pemicu beberapa komunitas musik underground untuk bangkit dan berbalik melawan konspirasi Zionis lewat musik underground.

Dalam seminar ini menghadirkan pembicara dari Komunitas GHURABBA MILITANT TAWHEED, sebuah komunitas musik underground yang menjadikan musik sebagai sarana dan alat dakwah untuk menyampaikan Islam ke para penggemar musik cadas di komunitas tersebut, yang dipelopori oleh band Rock indie label The Roots Of Madinah. Pembicara tersebut adalah Thufail Al-Ghifari salah satu rapper yang cukup dikenal di komunitas underground dan hiphop local sekaligus vokalis dari band The Roots Of Madinah.

Thufail Al-Ghifari mengupas tuntas mengenai musik underground yang pada awalnya lahirnya bertujuan sebagai kontra kultur dalam industri musik mainstream yang telah banyak berkembang, namun saat
ini aliran musik ini justru ditunggangi oleh Zionis dengan menjauhkan pemuda-pemuda dari sendi kehidupan agamanya melalui pengidolaan figur-figur yang kontra islam, dan syair syair lagu yang mendoktrin pemahaman kontra islam.

“Para musisi ini kebanyakan menjalankan misi Zionis tanpa mereka sadari. Kita tidak bisa mengatakan bahwa anak underground itu sesat, atau anak underground itu agen zionis karena konspirasinya tidak terletak pada subjek tapi ada pada lirik yang disampaikan oleh musik – musik yang kebanyakan membawa ideologi dan pesan terselubung yang akhirnya menjadi gaya hidup dan perlawanan terhadap apa yang sering kami sebut kemapanan,” ujar Thufail. Thufail juga menduga beberapa dari kutipan lirik yang ada di dalam musik-musik underground saat ini, antitesis dunia tanpa agama, tanpa negara dan tanpa ideologi yang murni merupakan pesan Zionis. Dan aspek lainnya yang mencoba menggiring para pemuda Muslim untuk menjauh dari agama mereka melalui musik.

Sama halnya dengan Muhammad Hariadi Nasution yang juga dikenal dengan panggilan “Ombat” vokalis dari band kawakan TENGKORAK, juga mengutip pernyataan seorang peneliti yahudi bernama Jeremiah
Walah, yang memang sangat concern melakukan penelitian terhadap watak dan psikologi masyarakat Indonesia. Jeremiah Walah justru mengatakan secara terbuka kepada Ombat bahwa untuk menghancurkan Indonesia tidak perlu menggunakan senjata, hancurkan saja para generasi mudanya. Melalui musik metal dan film porno.

“Kalau kita menemukan anak metal lebih tersinggung ketika aliran metalnya dihina daripada agamanya, nah itulah bukti bahwa disini ada agenda zionis” kutipan pernyataan Ombat dari investigasi FPI di belakang panggung acara konser musik Approach Deen Avoid Sin di Bulungan pada tahun 2010. Sejauh ini gerakan komunitas musik underground seperti GHURABBA MILITANT TAWHEED juga tidak sendirian, sebelumnya telah muncul pula beberapa komunitas lainnya, seperti Berandalan Puritan, Salam Satu Jari (One Finger Underground Movement) yang digawangi Band Senior TENGKORAK yang beraliran musik Grindcore Metal, ada juga PUNK MUSLIM yang digawangi Almarhum Budi Choiruni alias Buce
yang berkonsentrasi pada anak- anak punk di sekitaran Blok M dan Senayan, dan gerakan lainnya yang mulai bermunculan satu persatu sebagai perlawanan kultur Zionis dalam musik underground.

Komunitas Salam Satu Jari Bahkan lebih frontal mengubah salam metal yang identik dengan tiga jari menjadi salam tawheed satu jari yang bermakna satu jari lebih kepada ketauhidan. ”Inti dari Salam satu jari ini adalah untuk mengingatkan kita kepada simbol Tawheed” begitu penjelasan Madmor vokalis band Purgatory yang kami dapat disela sela dokumentasi wawancara mereka disebuah acara konser musik Java Rock In Land di Indonesia.

Menurut Thufail hanya dengan cara inilah mereka bisa menyadarkan kaum muda yang berkecimpung dalam dunia underground dari segala pengaruh buruk. Bila suara pemuka agama tidak lagi didengar, sudah saatnya mereka sendiri yang harus bergerak. ”Sebenarnya wadah underground ini hanya bagian dari strategi perang ideologi melalui musik menjadi wadah untuk melawan sekaligus membangun pertahanan kultur untuk menandingi perang budaya
yang ingin menggeser generasi islam dari nilai nilai Islam itu sendiri,” tambahnya lagi.

Dalam kesempatan lain, perwakilan dari FPI Ustadz Tarmidzi, juga sudah menerima silahturahim dari perwakilan band – band senior dari komunitas Underground. Seperti Fahmi yang merupakan salah satu personel dari band Mortus. Menurut pengakuan Fahmi sendiri, kehadiran dia juga mewakili komunitas studio Bendera Kuning yang didirikan oleh salah satu personel band Underground senior Betrayer. Fahmi sudah mendapatkan penjelasan langsung bahwa tidak ada rencana pembubaran Underground dari FPI.

Ustadz Tarmidzi menjelaskan bahwa semua itu hanyalah berita
palsu dan tidak memiliki dasar yang kuat, mulai dari nama Budi Fahri Farid hingga Isu pembubaran dunia musik Underground adalah bohong.

“FPI tidak memerangi underground, yang FPI perangi adalah kemaksiatan. Dimana ada pornografi, alkoholik, dan ide ide liberalisme lainnya, maka FPI akan
konsisten melakukan perlawanan minimal mensupport siapa saja yang melakukan perlawanan terhadap hal hal seperti itu, jadi isu FPI akan membubarkan Underground adalah berita bohong” ujarnya. “Jika anda muslim maka anda tidak perlu takut terhadap gerakan dakwah ini” begitulah pernyataan Fahmi dari band Mortus diakhir dari silahturahim beliau yang disambut hangat oleh perwakilan FPI dan juga komunitas underground muslim.

Begitu juga halnya dengan Wasis Ws, Aktivis dakwah jalanan yang juga merupakan underground senior Jakarta mengingatkan bahwa semua civitas dunia underground lebih baik menanyakan langsung ke DPP FPI tentang fakta yang sebenarnya, daripada mengikuti alur bola salju yang di lemparkan oleh segelintir orang yang inti sebenarnya adalah mereka tidak ingin dakwah Islam masuk ke dunia underground.

“Gue kenal Ombat, Thufail hingga Purgatory udah lama, bahkan senior metal seperti Irfan Rotor sembiring gue kenal. Dakwah underground ini sudah ada sejak zaman Rotor. Sekarang masalahnya apa yang dirintis oleh Irfan Rotor seperti gayung bersambut, kini banyak cucu- cucu dari band rotor malah semakin berani meneriakkan Islam, harusnya kita yang muslim bangga bukan justru menghalangi laju gerakan ini. Gue justru salut, dan civitas pengamen jalanan sangat mensupport kehadiran orang – orang seperti ini. Dulu gue jarang
ngeliat pengajian di jalanan, tapi pas gue ketemu yang namanya Punk Muslim. Anak – anak jalanan justru bisa ngerasain belajar Al Qur’ an di pinggir trotoar, di samping terminal sampai sholat isya berjamaah di sebuah acara underground” ujar Wasis.

Wasis juga menyakinkan bahwa isu pembubaran Undeground oleh FPI itu adalah berita fiktif dan tidak bertanggung jawab. Sama seperti yang dinyatakan oleh Luthfi ketua komunitas Punk Muslim generasi kedua setelah Almarhum Buce. “Sebenarnya isu ini digulirkan di dunia maya, kita semua tahu bahwa dunia maya itu dunia fitnah. Anak – anak pengamen dan punkers disekitar pulo gadung hingga bogor justru banyak yang senang dengan kehadiran pengajian pengajian ke lingkungan mereka, di Blok M kami sering membuat acara buka puasa bersama hingga maulid, sepertinya semua senang dengan kehadiran Islam dan tidak ada masalah” ujar Lutfhi.

Kehadiran komunitas Punk Muslim, Ghurabba Militan Tawheed, Salam Satu Jari (One Finger Underground Movement), Berandalan Puritan dan lain sebagainya terbukti merupakan titik revolusi puncak dari perlawanan terhadap kultur kontra Islam didalam dunia musik underground. Namun setelah revolusi, tetap harus ada bab lanjutan dimana dakwah harus terus bermuara pada pembinaan – pembinaan keislaman. Dari situlah FPI menjadi tertarik untuk mengundang perwakilan dari dunia underground muslim ini
untuk memaparkan secara singkat efek dari pergeseran budaya dan pemikiran yang terjadi karena musik musik barat
yang masuk ke Indonesia. Dan melalui sebuah film dokumenter berjudul Global Metal, kami memang melihat fakta yang jauh dari perkiraan kami, bahwasanya liberalisme, sekulerisme, atheisme, agnostik, pornografi, alkoholik dan budaya kebebasan yang berbeda dengan
jati diri bangsa Indonesia justru banyak ditularkan melalui pergaulan hedonisme disebagian komunitas Underground ini.

Underground memang tidak sesat, namun setiap oknum dan pelaku penyebaran doktrinasi dari hal hal yang bertolak belakang dengan Islam tetap harus ditindak, minimal dibangun kontra kulturnya. Suatu hal yang mengagumkan kami menemukan banyak anak – anak dengan keterbatasan ilmu justru telah berani ‘ memasang badan’ untuk melawan laju monster budaya yang merupakan bagian dari agenda zionis internasional ini.
Yang perlu diluruskan adalah, FPI memang tidak akan pernah membubarkan dunia musik underground. Jadi pemberitaan yang dimuat harian ‘ The Jakarta Post’ terkait FPI dan Dunia Musik Underground adalah tidak benar. Untuk selanjutnya diharapkan hal serupa tidak terulang kembali.


SUMBER
www.fpi.or.id/?p=detail&nid=407

Minggu, 27 Maret 2011

Beragama ala Komunitas Musik Cadas


  Diakui atau tidak keberadaan komunitas musik cadas (punk, underground, grunge, grindcore, hardcore) di Indonesia masih dianggap sebelah mata di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara yang dirundung teror keyakinan dan bom bunuh diri.

Citra negatif (anti kemapanan, begundal, begebah, selengean, dekat dengan minumar keras, narkoba, zat adiktif) kerap melekat pada mereka yang memilih jalur music indie.

Untuk urusan keagamaan apalagi. Cap tak pernah mengenal Tuhan dan menyebarkan ajaran sesat harus diterimanya. Ini yang dilakukan oleh Front Pembela Islam (FPI) dalam sebuah kuliah umum di Markas FPI di Petamburan, Jakarta Pusat. Budi Fahri Farid anggota senior FPI dan ahli musik Islam, menduga pada gerakan komunitas musik underground telah ada upaya bersama untuk memalingkan generasi muda dari ajaran Islam.

"Sudah ada konspirasi. Sebuah perang yang diluncurkan oleh komunitas underground (terhadap mainstream ajaran Islam)," katanya.

Underground Agen Zionis
Ia menelusuri akar musik underground untuk gerakan Zionis. Sekelompok orang yang mengikuti ideologi Zionis telah menggunakan medium untuk menyembunyikan tujuan mereka dominasi dunia.

"Pada akhir hari, itu akan menanamkan konflik di kalangan umat Islam sendiri," katanya.

Awalnya komunitas musik underground dikembangkan sebagai sebuah perlawanan terhadap industri mainstream secara independen dengan memproduksi dan mendistribusikan musik, telah ditumbangkan oleh gerakan Zionis untuk menyebarkan ide-ide yang akan bertentangan dengan Islam. (The Jakarta Post, 21 Maret 2011).

Saat ini Front Pembela Islam (FPI) sedang memasang mata mereka untuk mengincar penganut dan pergerakan musik underground yang mereka yakini membawa kesesatan khususnya di kalangan Muslim.

“Ada konspirasi di dalamnya. Perang sudah dikibarkan komunitas underground untuk melawan pengajaran Islam secara umum,” katanya.

Ia meyakini kalau akar musik underground itu merupakan gerakan Zionis yang meyakini pengikutan ideologi tersebut digunakan sebagai medium penyembunyi tujuan untuk mendominasi dunia.

 “Pada akhirnya, itu akan menjadi konflik di kalangan umat Muslim sendiri,” ujarnya (Hidayatullah, 23/3)

Nasyid Underground Pulo Gadung
Meskipun ada komunitas musik casad yang taat beragama. Adalah Punk Muslim (Nasyid Underground) yang digagas oleh Ahmad Zaki, Adi, dan (alm) Budi. Ramadhan tahun 2007 mereka membentuk Punk Muslim di rumah singgah anak jalanan, Sanggar Oedix, sebelah kiri Terminal Pulo Gadung. Dalam situs resminya http://punkmuslim.multiply.com menyebutkan;

“Punk Muslim mencoba untuk menjalankan perintah seperti, 'sampaikanlah walau cuma satu ayat', 'saling ingat mengingatkanlah kalian dalam kebaikan', atau ribuan perintah-perintah yang lain, dan kami ini baru satu, dua atau tiga saja yang bisa kami kerjakan.

Dan kami ini mengkhususkan untuk menyampaikan kepada diri kami sendiri dan merangkul kawan-kawan punk yang terlanjur nge-Punk”

“Kami tidak melawan mereka (punkers), yang kami lawan adalah sebuah konsep atau sistem yang membuat mereka seperti yang terlihat sekarang, melawan pembiasan makna kebebasan yang ekstrim dan terlampau mengada-ada, dan melawan dasar mereka turun kejalanan entah karena broken home atau sebab lain.”

“Muslim adalah sebuah subjek, dan Punk hanya sebuah objet, terlepas dari letak susunan kata subjek dan objek, “punk muslim” atau “muslim punk”.

Kami ini hanya sebuah antitesis. Mencoba membuat dialektika dalam punk itu sendiri. Kami bukan punk islam atau Islam punk, kami Punk Muslim“

Upaya mendalami ajaran Islam pengajian dan membaca Al-Quran sering dilakukan untuk mengenal Tuhan. Ahmad Zaki yang mengasuh anak-anak punk mencoba belajar membaca Al-Qur'an setiap malam Jumat. Mabit tiap dua bulan sekali, tafakur alam setiap tahun, dan rekrutmen menjadi kegiatan Punk Muslim. (Sabili, 19 Juni 2008, Eramuslim, Senin, 09/11/2009, detikNews, Kamis, 04/02/2010 dan Zero to Hero Metro TV Senin, 19 Juli 2010)

Kampung Metal “Ujungberung”
Kontek Bandung kampung metal ada di Ujungberung dengan slogan ”…Panceg dina galur/babarengan ngajaga lembur. Moal ingkah najan awak lebur…” (Teguh dalam pendirian, bersama-sama menjaga kampung dan persaudaraan. Tidak akan bergeming walaupun badan hancur lebur) yang diambil dari Amanat Galunggung yang dituliskan Rakeyan Darmasiksa (Raja Sunda Kuno yang hidup pada 1175-1297 Masehi) dan disadur menjadi lirik lagu ”Kujang Rompang” oleh Jasad, sebuah band beraliran death metal asal Bandung.

Keberadaan subkultur band death metal asal Ujungberung ini merupakan sebuah paradoks. Pasalnya, musik metal, tetapi lirik dan pesan nyunda dengan memakai alat Karinding, Celempung, Tarawangsa. Ujungberung Rebels dan Bandung Death Metal Sindikat menjadi wadah ekpresinya. (Kompas, 6 November 2009 dan Oasis Metro TV, 17 Februari 2011)

Namun, stigma negatif yang jauh dari Tuhan masih melekat pada mereka. Menanggapi pernyataan FPI tentang underground penyebar aliran sesat, menjauhkan pemuda dari Islam dan agen Zionis.

Model Beragama Musik Cadas
Andreij Eijkov menuliskan dalam blognya (karonkeren.multiply.com edisi 21 Maret 2011 1:38 AM), Saya memberi contoh Kimung, eks personil band metalcore Burgerkill. Ia adalah seorang pemeluk islam dan juga seorang metalhead. Saya menyimaknya melalui beberapa tulisannya. Semasa kecil dan remaja ia memahami banyak ajaran Islam, dan kemudian selera musik metalnya mengajarkan sikap anti fasis dan anti diskriminasi.

Titik potong terhadap kedua hal tersebut adalah saat ia menterjemahkan sendiri keyakinannya dalam sebuah sikap yang anti terhadap diskriminasi dalam bentuk apapun termasuk religi dan cenderung toleran terhadap segenap perbedaan yang ada. Apakah disini underground menjauhkannya dari ajaran Islam … bisa saya jawab tidak ! Lagipula contoh mengenai Kimung bukan sebuah hal baru di Indonesia, karena saya juga mengenal banyak sosok underground yang disatu sisi juga masih meyakini ajaran agamanya. (www.xtremezine.co.cc)

Memang benar Kimung, eks personil Burgerkill pernah menuliskan "Ketika Saya Memutuskan untuk Meninggalkan Mesjid" pada blognya (www.kimun666.multiply.com edisi 7 Juni 2008 5:37 AM). Sejak umur tiga lima tahun saya begitu betah main di mesjid. Masuk SD (1980) dan SMP (1990).

Setiap waktu ashar hingga maghrib tiba kami tabuh genderang dogdog kami dan bersahut-sahutan, senandungkan shalawat, asmaul husna, dan juga lagu-lagu pujian kami kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. Sepanjang shaum bahkan, saya dan kawan-kawan sepakat untuk sahur lebih awal dan keluar sebelum jam setengah empat shubuh dan mulai marching dogdog kami keliling kompleks untuk meramaikan sahur bulan Shiam.

Sekali lagi, lagi-lagi seingat saya, kami melakukannya karena kecintaan kami terhadap Allah SWT dan Rasululah SAW. Puncak kreasi kami adalah pawai dogdog di malam takbiran.

Ketika sekelompok orang—pendatang yang kabarnya adalah penyebar Islam, modernis yang punya pemikiran maju dalam mengembangkan Islam sekaligus giat memurnikan Islam, dan berkomitmen tinggi meramaikan mesjid—datang dan mulai mengkritik kegiatan kami, katanya berisik, tak menggunakan mesjid seperti mestinya, dan mulai mendengung-dengungkan isu bid’ah.

Kami was-was. Namun, atas kecintaan kami kepada Allah, kepada Rasulullah, dan kepada musik, kami tetap melakukan ritual kami itu. Hingga akhirnya di malam takbiran tahun 1992, setelah kami lelah menggelar rampak dogdog, bedug, dan senandung shalawatan keliling kampung dan kompleks, dan kami yang lelah memutuskan untuk menggelar musik religius kami di lapangan halaman mesjid, seorang pendatang baru, bapak-bapak botak, dengan wajah merah padam menghampiri kami.

Saat itu, malam hampir berakhir dan takbiran dari speaker mesjid sedang ramai-ramainya kami iringi dengan talu-talu perkusi kami. Sang bapak turun dari jalan raya dan bergegas menghampiri kami.

“Hentikan!” serunya. “Ini nggak bener! Talu-talu yang kalian lakukan adalah praktek penyembahan matahari. Ini bid’ah! Ini musrik! Jelas-jelas musrik!!!,” teriaknya.

Walhasil, keluar dari mesjid dan terlempar di jalan. Mereka mengusir kami dari mesjid mulai berkata: “Kalian kaum muda bergajulan! Jauh dari Allah! Nongkrong di pinggir jalan, brang-breng-brong gak jelas! Bukannya meramaikan mesjid malah menyumpeki pinggiran jalan! Kalian sampah!”

Kuatnya, pemahaman keagamaan terjadi pada Ivan Firmansyah, scumbag begundal hardcore ugal-ugalan adalah pionir pendobrak Ujungberung Rabels. Kimung menceritakan dalam buku My Self: Scumbag, Beyond Life and Death (2007).

Pada saat puasa di bulan ramadhan Ia selalu menasihati kawan-kawanya untuk tetap shaum dan shalat. Lantunan adzan dari kejauhan terdengar agak sayup-sayup mengisaratkan pertemuan Abid dengan Sang Kholik. Aing kan geus mabok van! Sengit Bebi protes. Eh..!! mabok mah mabok. Tapi nu lima waktu kudu jalan terus, ivan menjawab tak kalah sengit.

Prinsip ini sangat dipegang karena Ivan pernah menjadi bagaian Ikatan Remaja Mesjid Membangun Daerah (Remamuda) Al-Hidayah; Ikatan Remaja Nurul Islam (IRNI); Ketua Ikatan Remaja Mesjid Sekolah Menengah Pertama (SMP) 12 Bandung.

Besarnya pola keagamaan termaktub dalam lirik Unblessing Life -sebuah lagu di album terakhir Burgerkill, Beyond Coma and Despair. "Ya tuhan, begitu pekatnya ruang jiwaku/Hanya kematian terus samar memanggil/Singkirkan harapan yang terus memudar/Semakin tak bermakna/Semakin tak bercahaya/Inikah garis hidup yang tak terberkati?!"

Tak ketinggalan pada diri Addy Gembel, personil Forgotten segala keluh kesah agama dan merasa dekat dengan Tuhan dicurahlan lewat album Tuhan Telah Mati (2001).

Hilang sudah logika/Terbakar oleh dusta/Mereka hina dan nista/Terjerat oleh dunia/Mati Logika, putuslah asa, sembah dunia/Kotor media, racuni jiwa, halalkan dosa/Tuhan telah mati (4x). Mati Logika, putuslah asa, sembah dunia/Persetan semua ajarannya/Jadikan nyata hancurkan dosa/Hiduplah dengan rakusnya dunia/Habiskan semua sampah logika/Tuhan telah mati (4x). Hilang sudah logika/Terbakar oleh dusta/Mereka hina dan nista/Terjerat oleh dunia.

Pun saat meluncurkan buku Tiga Angka Enam! (2005) yang kental dengan unsure-unsur keagaman. “Gue hanya minta sekeping surga yang selama ini kamu miliki. hanya sekeping saja. Di antara jutaan keping yang sudah lo miliki hingga saat ini. penebusannya adalah lo boleh miliki gwa hingga waktu yang tak terbatas. walaupun untuk bisa seperti itu semua tabungan keberanian gwa habis gwa gadaikan didepan lo.” (Tempo, 26 April 2009).


Kegiatan keagamaan menjadi bagian yang tak terpisahkan pada diri Aci Personil Gugat, karena pengajar di TK Kuncup Harapan Astana. Jl Karang Anyar No 37 Kec.Astana Anyar Kota Bandung. Salah satu personil musik cadas permpuan dan memakai kerudung sebagai petanda muslimah yang taat beragama. (Oasis Metro TV, 17 Februari 2011).

Inilah cara komunitas music cadas dalam memaknai keberagamaan. Pasalnya, pola keberagamaan tidak hanya dilihat dari aspek ritual (shalat, pergi ke mesjid, menghadiri pengajian, memakai peci dan kerudung) semata, tapi dari segi pemikiran, perilaku dan karya nyata patut kita lirik.  (*)

Kamis, 24 Maret 2011

Medvedev Jumpa Band Pujaannya, Deep Purple


Medvedev Jumpa Band Pujaannya Deep Purple Russian President Dmitry Medvedev--AP/Ria-Novosti/cs
  Presiden Rusia Dmitry Medvedev dikenal sebagai pemuja musik heavy metal dan akhirnya dia bisa bertemu dengan grup rock yang selama ini menjadi pujaannya,  Deep Purple, Selasa (22/3) lalu.

Grup rock klasik itu memang sangat dikenal sejak Rusia masih tergabung dengan Uni Soviet. Padahal tidak mudah untuk pemujanya untuk menikmati, karena pemerintah kala itu selalu menyebut musik barat sebagai budaya imperialis. Stigma yang terus dihembuskan selama masa perang dingin dengan kubu negara-negara Barat.

Tapi kali ini, seluruh personel Deep Purple berada satu meja dengan Medvedev untuk minum teh bersama. Pertemuan yang dilakukan di kediaman Medvedev, di luar kota Moskow. Medvedev pun mengakui, sudah menjadi pemuja Deep Purple sejak berusia 12 tahun.

Medvedev, 45, menyukai musik rock. Selain Deep Purple, dia juga menyukai aliran hard rock sehingga sangat pula memuja grup Black  Sabbath serta Led Zeppelin. Itu sangat berbeda dengan Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin yang dikenal sebagai pemuja musik pop yang dimainkan The Beatles dan ABBA.

"Ketika saya pertama kali mendengarkan lagu-lagu Deep Purple, saya tidak pernah bermimpi akan bisa bertemu dan duduk semeja dengan Anda semua," ungkap Madvedev kepada anggota Deep Purple seperti dilaporkan televisi, Rabu (23/3).

Sedangkan kantor berita Ria Novosti mengabarkan, putra Medvedev yang berusia 15 tahun, Ilya, berkesempatan menunjukkan kemampuan memainkan gitar elektrik di depan personel Deep Purple. Ilya juga menjajal tampil bersama grup yang menjadi pujaan sang ayah itu.

Selasa, 22 Maret 2011

Rock Spektakuler, Satukan Pemusik Rock di Medan






Pagelaran musik bertajuk "Rock
Spektakuler" yang diprakarsai
Kampusi Promo di Lapangan
Benteng Medan,19-20 Maret 2011
mendapat sambutan hangat bagi
penggemar musik rock di Medan. Tak hanya itu saja, pemusik
dapat merasakan bersatu
setelah lama tak berkiprah
untuk menunjukkan kebolehan
mereka di panggung.


Konser musik ini di mulai pukul
20.00 WIB selepas shalat Isya,
Sabtu (19/3) malam penampilan
diawali dengan grup Master Plan,
kemudian Relix, Lucifer membawa
lagu-lagu alternative, Vivax dengan mengandalkan lagu Guns
N Roses, Challenger, New
Chordexs dengan vokalis
Iskandar membawa tembang dari
God Bless, Crazy Rock tak mau
kalah dengan menyuguhkan lagu Deep Purple seperti Burn, Smoke
On The Water, Wasted Sunset,
selanjutnya Morbid dan terakhir
grup Valhalla.


Vokalis Crazy Rock beraksi
nyanyi naik ke riging panggung
sebelah kiri sehingga membuat
heboh penonton dan setelah
turun, kemudian naik ke
barikade kemudian melompat ala slamming ke penonton, dan
selanjutnya ditampung penonton.


Di sisi lain, vokalis New Chordexs,
Iskandar Sembiring masih memiliki
suara merdunya membawa lagu
seperti Rumah Kita dan Kepada
Perang. Kelompk band Morbid
mendapat sambutan hangat penonton dan komunitas
underground
Medan.


Valhalla dengan vokalis Kevie
masih memiliki greget sebagai
grup thrash, membawa lagu lagu
Metallica dan Megadeth.
Penonton mencapai tiga
perempat Lapangan Benteng, hingga tengah malam tersisa
sekitar 2.000 orang bertahan.


Pemandu acara MC Yondik Tanto
dengan panggilan Rockmania
kepada penonton.


Selanjutnya, Minggu (20/3)
malam, masing-masing band
membawa 3 lagu dibuka oleh
penampilan Cranium dengan lagu
lagu hardcore, disusul band dari
Aceh, Glanter. Kemudian Bad Radio dengan vokalis Didi yang
sangat atraktif di panggung.


Giliran berikutnya adalah
Erucakra C Man membawa lagu
lagu progressive rock Touch and
Go dari ELP, lagu ciptaan dan
lagu Owner of a Lonely Heart
grup Yes. Eru tampil aktraktif, liar di panggung dilengkapi
formasi saksofonis.


Sesudah Eru, band Black Light
dengan vokalis Herry dengan
lagu lagu Motley Crue seperti
Home Sweet Home. Selanjutnya
Great Metal dengan vokalis
kocak, Nabo setelah 20 tahun Great Metal bertemu lagi dengan
fansnya, kata Nabo. Lagu Leron
Maiden berjudul Trooper, juga
lagu dari grup Loudness
dibawakan Nabo. Suaranya masih
melengking.


Selesai Great Metal naik band
Wirtness membawa lagu lagu
rock n roll dengan dynamic duo
gitar yang sangar. Selanjutnya
jam 11 malam naik MMG grup
membawakan lagu Paintkiller milik Judas Priest dan dua lagu
lainnya. Yang beriramakan speed
metal.


Pagelaran musik ini ditutup oleh
Metallaser dengan vokalis Bayin
Nur dan gitaris Tondy membawa
lagu lagu Led Zeppelin seperti
Whola Lotta Love dan Rock n
Roll


Siang hari Sabtu dan Minggu
diadakan festival band rock
diikuti 40 band peserta dengan
dewan juri Ketua Jelly Tobing,
Wakil ketua Diurnanta
Qelanaputra dan Anggota Jenda Bangun. Pemenang I grup Angka
dari Medan, berhak meraih Rp 10
juta bersama plakat. Festival
diikuti band band dari Medan,
Pematangsiantar,
Padangsidimpuan, Aceh dan daerah lainnya. Satu lagu wajib
dan lagu pilihan bagi peserta
yang mengikuti festival rock.
Seluruh personel band sebanyak
22 orang dari luar Medan
menginap di Garuda Plaza Hotel sebagai salah satu pendukung
acara ini.


Herwin dari Kampusi Promo
mengatakan acara ini akan
diadakan setiap tahun, tidak
hanya band 90-an tapi juga
band band rock di Sumut dan
Aceh yang ada, agar Medan sebagai barometer rock kembali
bangkit dalam belantika musik di
Indonesia.


Sementara itu, Bayin dari
Metallaser berharap acara ini
dibuat album kompilasi band band
terutama yang menang festival.
Di sisi lain, Keke dari Morbid
menuturkan sudah 13 tahun baru main musik lagi karena rock
spektakuler.

Underground Bukan Zionisme [BALASAN UNTUK FPI]






Sebenarnya ini bukan sebuah hal yang baik untuk memulai hari Senin, ketika lagi lagi sebuah berita di koran terkenal Jakarta yaitu The Jakarta post mem

Sebenarnya ini bukan sebuah hal yang baik untuk memulai hari Senin, ketika lagi lagi sebuah berita di koran terkenal Jakarta yaitu The Jakarta post membuat saya tertegun, terhenyak dan kemudian marah marah. Namun musti bagaimana lagi bereaksi, ketika kebodohan demi kebodohan terus saja dilancarkan untuk menyerang praktek kehidupan bertoleransi dan berdemokrasi.
Ronni James Dio Dengan Salamnya Yang Terkenal
Jika membaca terhadap pernyataan Farid Budi Fahri, yang konon seorang anggota senior FPI, serta seorang pakar musik Islam, yang menuduhkan bahwa musik underground beserta segenap variannya membawa misi zionisme, maka saya kemudian dengan tegas menolak dan balik mempertanyakan pengetahuan kesejarahan musik dan budaya dari saudara Fahri itu sendiri. Underground memang lahir sebagai sebuah bentuk budaya tandingan. Namun kita harus memahami secara historis dan secara kontekstual akan budaya tandingan itu sendiri. Musik punk yang lahir di Inggris, disana memang harus terlahirkan sebagai sebuah bentuk tandingan terhadap sistem monarki yang menghegemoni sendi sendi kehidupan rakyat Inggris. Ketika ia menyebar ke seluruh dunia, ia tidak diserap secara mentah mentah, namun juga beradaptasi dengan kultur kultur lokal setempat. Di Amerika, ia menjelma menjadi hardcore, budaya tanding terhadap fasisme, rasialisme, diskriminasi serta kebijakan politik dan ekonomi bernama New World Order.
Demikian pula dengan musik Thrash Metal. Musik ini adalah sebuah bentuk kemarahan terhadap sistem sosial ala Barat, serta sebagai sebuah bentuk terapi psikologis terhadap segenap individu yang tidak akan pernah bisa fit didalam sistem sosial tersebut. Kita bisa menyimak hal tersebut dari lirik liriknya. Dan ini adalah fakta kesejarahan yang ada.
Black Sabbath lahir di sebuah kota penuh pabrik di Inggris yaitu Birmingham. Tentu saja lirik liriknya banyak terpengaruh kepada kemarahan kaum pekerja disana. Jika Ozzy Osbourne kemudian membawa bawa peti mati keatas panggung, maka itu adalah sebuah simbol kemarahan Black Sabbath terhadap sistem sosial pada saat itu.
METALLICA, MEGADETH, ANTHRAX, dll lahir di Amerika. Bisa kita lihat bahwa kultur dan sistem sosial disana sudah sangat dekaden, sehingga melahirkan sebuah tandingan bernama Thrash Metal. Lirik lirik yang ada tidak dengan serta merta menyerang, namun lebih kepada memberikan sebuah terapi psikologis terhadap segenap metalhead yang memang tidak akan pernah bisa fit dalam sistem sosial tersebut. Bahkan juga beberapa lagu dari dari kaum Thrash Metal Amerika itu sendiri sebenarnya sangat anti perang, sebagai contoh sebaiknya silakan disimak ‘Holy War’ dari MEGADETH.
Lalu jika kita lebih melihat kepada permasalahan pencitraan yang terjadi dalam musik Metal, itu sendiri sebenarnya adalah sebuah ironi. Karena Metal sejak awal ia memposisikan diri sebagai anak haram peradaban Barat. Tengkorak, monster, binatang liar, serta segenap imaji rusak yang dibangun oleh kaum metalhead yang bisa kita lihat dalam citra IRON MAIDEN, METALLICA, SEPULTURA dll itu adalah sebuah cermin rusak dari peradaban Barat itu sendiri.
Lalu jika dituduhkan bahwa Metal membawa pesan pesan bersifat Satanic, maka sebaiknya saudara Fahri Budi yang konon seorang pakar musik ini lebih menilik dari kesejarahan atribut Metal dan juga kesejarahan penyebaran musik Metal. Simbol tiga jari dalam musik Metal dipopulerkan oleh Ronnie James Dio, seorang musisi metal era awal. Simbol itu dalam budaya orang Italia dan orang Latin adalah sebuah cara kuno untuk mengusir setan dan roh roh halus. Singkat kata, simbol itu adalah simbol tolak bala. Ia kemudian menjadi simbol dalam musik Metal sebagai sebuah bentuk citra ironis terhadap sistem sosial itu sendiri.
Lalu jika menilik dari varian yang dibangun oleh musik Metal hingga ia disebut Satanisme, maka kita harus menilik kepada sejarah penyebaran musik Metal di Skandinavia yaitu Swedia, Norwegia, dll dan juga kepada konteks kultural dalam kehidupan Skandinavia itu sendiri. Swedia dan Norwegia adalah negara yang menjadi kampung halaman nobel perdamaian. Negara negara ini juga seringkali menjadi cermin keberhasilan budaya dan peradaban Barat.
Namun ironisnya, disaat yang bersamaan diskriminasi juga terjadi dengan sangat keras disini. Diskriminasi ini terjadi dalam sebuah sistem sosial yang dikeluarkan oleh kebijakan kebijakan ala ajaran Nasrani. Disinilah musik Metal menemukan bentuk tandingannya, sehingga memunculkan varian bernama Death Metal, Black Metal dan Gothic Metal. Mereka memadu padankan musik Metal dengan budaya tradisional Skandinavia yaitu Viking sebagai tandingan terhadap diskriminasi sosial tersebut.
Dan jika kita melihat penghancuran simbol simbol religius Nasrani dalam musik metal tersebut, maka itu adalah sebuah bentuk performance yang merepresentasikan terhadap diskriminasi yang dilakukan melalui kebijakan kebijakan ala Nasrani disana.
Saya sendiri menolak dengan keras jika kemudian diisukan bahwa musik musik underground membawa pesan pesan Zionisme dan kemudian semua orang menyukainya tanpa menyadarinya. Sebagai sebuah fakta, di Indonesia sendiri banyak kaum underground, entah itu punk, hardcore ataupun metal yang menolak terhadap Zionisme.
Bahkan dalam dokumenter Global Metal yang disampaikan oleh Sam Dunn, Ombat personil band TENGKORAK sendiri menyatakan bahwa ia anti Zionisme. Lagipula, contoh yang disampaikan oleh saudara Fahri yang seorang anggota senior FPI ini adalah lagu lagu dari John Lennon, yang notabene adalah seorang hippies dan bukan seorang pencetus atau pengikut gerakan underground. Sehingga hipotesa yang dilakukannya serasa tidak masuk akal dan jauh panggang dari api.
Lalu apa maksud yang disampaikan FPI? Jika saya mencoba menyimak, maka hal itu ada pada kalimat dimana musik underground menjauhkan anak muda dari nilai nilai keislaman.
Saya memberi contoh Kimung, eks personil band metalcore BURGERKILL. Ia adalah seorang pemeluk islam dan juga seorang metalhead. Saya menyimaknya melalui beberapa tulisannya. Semasa kecil dan remaja ia memahami banyak ajaran Islam, dan kemudian selera musik metalnya mengajarkan sikap anti fasis dan anti diskriminasi.
Titik potong terhadap kedua hal tersebut adalah saat ia menterjemahkan sendiri keyakinannya dalam sebuah sikap yang anti terhadap diskriminasi dalam bentuk apapun termasuk religi dan cenderung toleran terhadap segenap perbedaan yang ada. Apakah disini underground menjauhkannya dari ajaran Islam … bisa saya jawab tidak ! Lagipula contoh mengenai Kimung bukan sebuah hal baru di Indonesia, karena saya juga mengenal banyak sosok underground yang disatu sisi juga masih meyakini ajaran agamanya.
Bagi saya sebuah produk budaya, apapun itu bentuknya akan selalu hidup dalam segenap hati para pengikutnya. Katakanlah marawis, kasidah, dll yang merupakan produk budaya Islam, apakah sekarang ia mati dan dilupakan jaman. Tidak, karena masih banyak orang yang juga melestarikan produk budaya ini. Sehingga sekalipun jaman telah berubah sedemikian drastis, dan satu bentuk budaya telah berganti budaya baru, namun tetap ada kaum kaum yang akan melestarikan produk produk budaya lama tersebut. Dan atas dasar inilah, maka saya lihat tendensi FPI dalam statement mereka di The Jakarta post adalah sebuah bentuk sikap insecure semata. Insekuritas yang jangan jangan dimasa depan bisa dipraktekkan dengan cara cara kekerasan dan fasisme. Gebuk, bacok dan sikat semua yang berbeda !
Indonesia bukan negara Islam sekalipun pemeluk agama terbanyak adalah Islam. Namun sekalipun suatu saat Indonesia menjelma menjadi negara teokrasi Islam dan demokrasi ditindas dengan fasisme religius, saya tetap meyakini bahwa musik underground mulai dari punk, hardcore, metal, dll akan tetap hidup di hati dan sanubari mereka yang mengimaninya. Ambil contoh saja Acrassicauda, band heavy metal asal Irak. Sekalipun kepala mereka diburu oleh kaum fundamentalis Islam baik dari Sunni maupun Syiah, namun selamanya mereka tetap menjadi seorang metalhead asal Baghdad. Seseorang tidak akan pernah bisa memaksakan nilai nilai tertentu untuk diyakini oleh orang lain, karena mereka sendiri pun memiliki nilai nilai tertentu yang mereka yakini dan merupakan yang terbaik yang dibentuk dari kehidupan mereka sendiri.
Agama adalah sebuah jalan humanisme, namun jika ia dipaksakan untuk menindas nilai nilai yang diyakini oleh orang lain, maka apa bedanya agama dengan Zionisme … dan ini adalah sebuah pertanyaan balik saya untuk saudara Fahri Budi yang konon pakar musik dan anggota senior FPI ini.
Tulisan : Andreij Eijkov
Source : http://karonkeren.multiply.com/journal/item/614/
buat saya tertegun, terhenyak dan kemudian marah marah. Namun musti bagaimana lagi bereaksi, ketika kebodohan demi kebodohan terus saja dilancarkan untuk menyerang praktek kehidupan bertoleransi dan berdemokrasi.

Ronni James Dio Dengan Salamnya Yang Terkenal

Jika membaca terhadap pernyataan Farid Budi Fahri, yang konon seorang anggota senior FPI, serta seorang pakar musik Islam, yang menuduhkan bahwa musik underground beserta segenap variannya membawa misi zionisme, maka saya kemudian dengan tegas menolak dan balik mempertanyakan pengetahuan kesejarahan musik dan budaya dari saudara Fahri itu sendiri. Underground memang lahir sebagai sebuah bentuk budaya tandingan. Namun kita harus memahami secara historis dan secara kontekstual akan budaya tandingan itu sendiri. Musik punk yang lahir di Inggris, disana memang harus terlahirkan sebagai sebuah bentuk tandingan terhadap sistem monarki yang menghegemoni sendi sendi kehidupan rakyat Inggris. Ketika ia menyebar ke seluruh dunia, ia tidak diserap secara mentah mentah, namun juga beradaptasi dengan kultur kultur lokal setempat. Di Amerika, ia menjelma menjadi hardcore, budaya tanding terhadap fasisme, rasialisme, diskriminasi serta kebijakan politik dan ekonomi bernama New World Order.

Demikian pula dengan musik Thrash Metal. Musik ini adalah sebuah bentuk kemarahan terhadap sistem sosial ala Barat, serta sebagai sebuah bentuk terapi psikologis terhadap segenap individu yang tidak akan pernah bisa fit didalam sistem sosial tersebut. Kita bisa menyimak hal tersebut dari lirik liriknya. Dan ini adalah fakta kesejarahan yang ada.
Black Sabbath lahir di sebuah kota penuh pabrik di Inggris yaitu Birmingham. Tentu saja lirik liriknya banyak terpengaruh kepada kemarahan kaum pekerja disana. Jika Ozzy Osbourne kemudian membawa bawa peti mati keatas panggung, maka itu adalah sebuah simbol kemarahan Black Sabbath terhadap sistem sosial pada saat itu.

METALLICA, MEGADETH, ANTHRAX, dll lahir di Amerika. Bisa kita lihat bahwa kultur dan sistem sosial disana sudah sangat dekaden, sehingga melahirkan sebuah tandingan bernama Thrash Metal. Lirik lirik yang ada tidak dengan serta merta menyerang, namun lebih kepada memberikan sebuah terapi psikologis terhadap segenap metalhead yang memang tidak akan pernah bisa fit dalam sistem sosial tersebut. Bahkan juga beberapa lagu dari dari kaum Thrash Metal Amerika itu sendiri sebenarnya sangat anti perang, sebagai contoh sebaiknya silakan disimak ‘ Holy War’ dari MEGADETH.


Lalu jika kita lebih melihat kepada permasalahan pencitraan yang terjadi dalam musik Metal, itu sendiri sebenarnya adalah sebuah ironi. Karena Metal sejak awal ia memposisikan diri sebagai anak haram peradaban Barat. Tengkorak, monster, binatang liar, serta segenap imaji rusak yang dibangun oleh kaum metalhead yang bisa kita lihat dalam citra IRON MAIDEN, METALLICA, SEPULTURA dll itu adalah sebuah cermin rusak dari peradaban Barat itu sendiri.

Lalu jika dituduhkan bahwa Metal membawa pesan pesan bersifat Satanic, maka sebaiknya saudara Fahri Budi yang konon seorang pakar musik ini lebih menilik dari kesejarahan atribut Metal dan juga kesejarahan penyebaran musik Metal. Simbol tiga jari dalam musik Metal dipopulerkan oleh Ronnie James Dio, seorang musisi metal era awal. Simbol itu dalam budaya orang Italia dan orang Latin adalah sebuah cara kuno untuk mengusir setan dan roh roh halus. Singkat kata, simbol itu adalah simbol tolak bala. Ia kemudian menjadi simbol dalam musik Metal sebagai sebuah bentuk citra ironis terhadap sistem sosial itu sendiri. Lalu jika menilik dari varian yang dibangun oleh musik Metal hingga ia disebut Satanisme, maka kita harus menilik kepada sejarah penyebaran musik Metal di Skandinavia yaitu Swedia, Norwegia, dll dan juga kepada konteks kultural dalam kehidupan Skandinavia itu sendiri. Swedia dan Norwegia adalah negara yang menjadi kampung halaman nobel perdamaian. Negara negara ini juga seringkali menjadi cermin keberhasilan budaya dan peradaban Barat.
Namun ironisnya, disaat yang bersamaan diskriminasi juga terjadi dengan sangat keras disini. Diskriminasi ini terjadi dalam sebuah sistem sosial yang dikeluarkan oleh kebijakan kebijakan ala ajaran Nasrani. Disinilah musik Metal menemukan bentuk tandingannya, sehingga memunculkan varian bernama Death Metal, Black Metal dan Gothic Metal. Mereka memadu padankan musik Metal dengan budaya tradisional Skandinavia yaitu Viking sebagai tandingan terhadap diskriminasi sosial tersebut. Dan jika kita melihat penghancuran simbol simbol religius Nasrani dalam musik metal tersebut, maka itu adalah sebuah bentuk performance yang merepresentasikan terhadap diskriminasi yang dilakukan melalui kebijakan kebijakan ala Nasrani disana.


Saya sendiri menolak dengan keras jika kemudian diisukan bahwa musik musik underground membawa pesan pesan Zionisme dan kemudian semua orang menyukainya tanpa menyadarinya. Sebagai sebuah fakta, di Indonesia sendiri banyak kaum underground, entah itu punk, hardcore ataupun metal yang menolak terhadap Zionisme.Bahkan dalam dokumenter Global Metal yang disampaikan oleh Sam Dunn, Ombat personil band TENGKORAK sendiri menyatakan bahwa ia anti Zionisme. Lagipula, contoh yang disampaikan oleh saudara Fahri yang seorang anggota senior FPI ini adalah lagu lagu dari John Lennon, yang notabene adalah seorang hippies dan bukan seorang pencetus atau pengikut gerakan underground. Sehingga hipotesa yang dilakukannya serasa tidak masuk akal dan jauh panggang dari api.
Lalu apa maksud yang disampaikan FPI? Jika saya mencoba menyimak, maka hal itu ada pada kalimat dimana musik underground menjauhkan anak muda dari nilai nilai keislaman. Saya memberi contoh Kimung, eks personil band metalcore BURGERKILL. Ia adalah seorang pemeluk islam dan juga seorang metalhead. Saya menyimaknya melalui beberapa tulisannya. Semasa kecil dan remaja ia memahami banyak ajaran Islam, dan kemudian selera musik metalnya mengajarkan sikap anti fasis dan anti diskriminasi. Titik potong terhadap kedua hal tersebut adalah saat ia menterjemahkan sendiri keyakinannya dalam sebuah sikap yang anti terhadap diskriminasi dalam bentuk apapun termasuk religi dan cenderung toleran terhadap segenap perbedaan yang ada. Apakah disini underground menjauhkannya dari ajaran Islam … bisa saya jawab tidak ! Lagipula contoh mengenai Kimung bukan sebuah hal baru di Indonesia, karena saya juga mengenal banyak sosok underground yang disatu sisi juga masih meyakini ajaran agamanya.
Bagi saya sebuah produk budaya, apapun itu bentuknya akan selalu hidup dalam segenap hati para pengikutnya. Katakanlah marawis, kasidah, dll yang merupakan produk budaya Islam, apakah sekarang ia mati dan dilupakan jaman. Tidak, karena masih banyak orang yang juga melestarikan produk budaya ini. Sehingga sekalipun jaman telah berubah sedemikian drastis, dan satu bentuk budaya telah berganti budaya baru, namun tetap ada kaum kaum yang akan melestarikan produk produk budaya lama tersebut. Dan atas dasar inilah, maka saya lihat tendensi FPI dalam statement mereka di The Jakarta post adalah sebuah bentuk sikap insecure semata. Insekuritas yang jangan jangan dimasa depan bisa dipraktekkan dengan cara cara kekerasan dan fasisme. Gebuk, bacok dan sikat semua yang berbeda ! Indonesia bukan negara Islam sekalipun pemeluk agama terbanyak adalah Islam. Namun sekalipun suatu saat Indonesia menjelma menjadi negara teokrasi Islam dan demokrasi ditindas dengan fasisme religius, saya tetap meyakini bahwa musik underground mulai dari punk, hardcore, metal, dll akan tetap hidup di hati dan sanubari mereka yang mengimaninya. Ambil contoh saja Acrassicauda, band heavy metal asal Irak. Sekalipun kepala mereka diburu oleh kaum fundamentalis Islam baik dari Sunni maupun Syiah, namun selamanya mereka tetap menjadi seorang metalhead asal Baghdad. Seseorang tidak akan pernah bisa memaksakan nilai nilai tertentu untuk diyakini oleh orang lain, karena mereka sendiri pun memiliki nilai nilai tertentu yang mereka yakini dan merupakan yang terbaik yang dibentuk dari kehidupan mereka sendiri.
Agama adalah sebuah jalan humanisme, namun jika ia dipaksakan untuk menindas nilai nilai yang diyakini oleh orang lain, maka apa bedanya agama dengan Zionisme … dan ini adalah sebuah pertanyaan balik saya untuk saudara Fahri Budi yang konon pakar musik dan anggota senior FPI ini.

Tulisan : Andreij Eijkov


SUMBER
http://www.berontakzine.com/news/2011/03/21/underground-bukan-zionisme-balasan-untuk-fpi/

FPI Incar Musik Underground



Masih panas tentang kampanye mereka untuk membubarkan Ahmadiyah, garis keras kelompok Front Pembela Islam (FPI) kini memasang mata mereka untuk mengincar penganut dan pergerakan musik underground yang mereka yakini membawa kesesatan khususnya bagi penganut Muslim.
FPI Akan Invasi Ke Musik Underground
Dalam sebuah kuliah umum di markas FPI di Petamburan, Jakarta Pusat, anggota senior FPI yang diplot sebagai ahli musik Islam, Budi Fahri Farid menduga adanya gerakan mengaburkan ajaran Islam dengan berbagai aliran musik bawah tanah. “Ada konspirasi di dalamnya. Perang sudah dikibarkan komunitas underground untuk melawan pengajaran Islam secara umum,” katanya ketika memberi kuliah minggu kemarin. Dia juga meyakini kalau akar musik underground itu merupakan gerakan Zionis yang meyakini pengikutan ideologi tersebut digunakan sebagai medium penyembunyi tujuan untuk mendominasi dunia.
“Pada akhirnya, itu akan menjadi konflik di kalangan umat Muslim sendiri,” ujarnya lagi.
Masih tentang spekulasinya, Budi meyakini kalau musik underground awalnya memang sebagai perlawanan dalam industri musik mainstream namun belakangan gerakan ini justru tumbang oleh Zionis dengan penyebaran ide yang bertentangan dengan nafas Islam.
“Apakah musisi ini menjalankan misi Zionis? Aku bilang tidak. Konspirasinya ada pada musik, lirik yang mereka sampaikan membawa pesan dan ideologi yang pada akhirnya akan menjadi gaya hidup dan kultur perlawanan,” kata Budi Farid lagi.
Budi Farid mencontohkan tentang isi lagu ‘Imagine’ milik John Lennon sebagai musik Zionis meski Lennon bukan seorang Yahudi dan bukan bagian dari komunitas musik underground.
“Orang-orang tetap menyanyikan lagu itu tanpa tahu arti dibelakangnya,” kata Ia lagi.
Dia menduga dari kutipan lirik yang ada di dalamnnya, pernyataan hipotetikal dunia tanpa agama, tanpa negara dan tanpa ideologi merupakan sebagai pesan Zionis yang murni.
Dia juga menambahkan kalau kaos band-band underground sedang mempromosikan pesan-pesan Satanis dengan band-band seperti SEPULTURA, METALLICA dan LAMB OF GOD yang menggiring pemuda Muslim untuk menjauh dari agama.
Seperti yang diketahui, belakangan FPI mencoba untuk masuk dalam komunitas punk dengan misi penyebaran agama Islam.
“Sejauh ini kami mencoba untuk mendekati komunitas punk di Pulo Gadung dan terminal bus Blok M untuk membawa mereka mengerti tentang Islam secara benar.
“Kami berharap jika kasus Ahmadiyah ini cepat selesai, FPI akan berkonsentrasi untuk menghancurkan penyebaran sesat di komunitas underground,” tambah Budi Farid lagi.
Sementara itu kepolisian Jakarta belum mengetahui sama sekali tentang rencana ini. “Kami belum menerima informasi tentang hal itu,” kata Kabid Humas Polda Metro, Kombes Pol Baharuddin Jafar yang sebelumnya merupakan Kabid Humas Polda Sumatera Utara.
Ini bukan kali pertama FPI berkampanye melawan seni kreatif. Tahun lalu FPI Bekasi mereka meminta desain patung seniman Bali berjudul Tiga Mojang (Tiga Wanita) diturunkan karena digambarkan sebagai Tritunggal yang kudus. [berontakzine.com]
Thanks : Jakarta Post
Masih panas tentang kampanye mereka untuk membubarkan Ahmadiyah, garis keras kelompok Front Pembela Islam (FPI) kini memasang mata mereka untuk mengincar penganut dan pergerakan musik underground yang mereka yakini membawa kesesatan khususnya bagi penganut Muslim.

FPI Akan Invasi Ke Musik Underground

Dalam sebuah kuliah umum di markas FPI di Petamburan, Jakarta Pusat, anggota senior FPI yang diplot sebagai ahli musik Islam, Budi Fahri Farid menduga adanya gerakan mengaburkan ajaran Islam dengan berbagai aliran musik bawah tanah.


“Ada konspirasi di dalamnya. Perang sudah dikibarkan komunitas underground untuk melawan pengajaran Islam secara umum,” katanya ketika memberi kuliah minggu kemarin. Dia juga meyakini kalau akar musik underground itu merupakan gerakan Zionis yang meyakini pengikutan ideologi tersebut digunakan sebagai medium penyembunyi tujuan untuk mendominasi dunia. “Pada akhirnya, itu akan menjadi konflik di kalangan umat Muslim sendiri,” ujarnya lagi. Masih tentang spekulasinya, Budi meyakini kalau musik underground awalnya memang sebagai perlawanan dalam industri musik mainstream namun belakangan gerakan ini justru tumbang oleh Zionis dengan penyebaran ide yang bertentangan dengan nafas Islam.


“Apakah musisi ini menjalankan misi Zionis? Aku bilang tidak. Konspirasinya ada pada musik, lirik yang mereka sampaikan membawa pesan dan ideologi yang pada akhirnya akan menjadi gaya hidup dan kultur perlawanan,” kata Budi Farid lagi. Budi Farid mencontohkan tentang isi lagu ‘ Imagine’ milik John Lennon sebagai musik Zionis meski Lennon bukan seorang Yahudi dan bukan bagian dari komunitas musik underground. “Orang-orang tetap menyanyikan lagu itu tanpa tahu arti dibelakangnya,” kata Ia lagi. Dia menduga dari kutipan lirik yang ada di dalamnnya, pernyataan hipotetikal dunia tanpa agama, tanpa negara dan tanpa ideologi merupakan sebagai pesan Zionis yang murni. Dia juga menambahkan kalau kaos band-band underground sedang mempromosikan pesan- pesan Satanis dengan band-band seperti SEPULTURA, METALLICA dan LAMB OF GOD yang menggiring pemuda Muslim untuk menjauh dari agama.
Seperti yang diketahui, belakangan FPI mencoba untuk masuk dalam komunitas punk dengan misi penyebaran agama Islam. “Sejauh ini kami mencoba untuk mendekati komunitas punk di Pulo Gadung dan terminal bus Blok M untuk membawa mereka mengerti tentang Islam secara benar. “Kami berharap jika kasus Ahmadiyah ini cepat selesai, FPI akan berkonsentrasi untuk menghancurkan penyebaran sesat di komunitas underground,” tambah Budi Farid lagi. Sementara itu kepolisian Jakarta belum mengetahui sama sekali tentang rencana ini. “Kami belum menerima informasi tentang hal itu,” kata Kabid Humas Polda Metro, Kombes Pol Baharuddin Jafar yang sebelumnya merupakan Kabid Humas Polda Sumatera Utara.



Ini bukan kali pertama FPI berkampanye melawan seni kreatif. Tahun lalu FPI Bekasi mereka meminta desain patung seniman Bali berjudul Tiga Mojang (Tiga Wanita) diturunkan karena digambarkan sebagai Tritunggal yang kudus.



SUMBER
http://www.berontakzine.com/news/2011/03/21/fpi-incar-musik-underground/

Rabu, 16 Maret 2011

Konser Musik Metal Tolak Nurdin Halid



Aksi penolakan Nurdin Halid untuk
pencalonan Ketua Umum PSSI
mendatang muncul di
beberapa daerah. Di Bogor,
Jawa Barat, masyarakat
yang didominasi anak muda, melakukan aksi penolakan
tersebut dengan menggelar
konser musik aliran metal.


Konser musik metal ini
mengusung tema revolusi
PSSI. Konser ini digelar oleh
Front Pribumi, di lapangan
parkir Stadion Pajajaran,
Bogor.


Konser musik keras ini
dibawakan oleh sejumlah
musisi dari Bandung dan
Bogor.


Menurut Ketua Front
Pribumi, Ki Gendeng
Pamungkas, aksi penolakan
terhadap pencalonan Nurdin
untuk Ketua Umum PSSI
dengan konser musik merupakan media efektif di
kalangan anak muda.

Total Tayangan Laman

theremon666@gmail.com
DOWNLOAD:
VOLTURYON - Coordinated Mutilation (2011) genre:Death orgin:Sweden BENIGHTED - Asylum Cave (2011) genre:Death/Grind orgin:France IMPRECATORY - Mortal Intestines Decay [2005] Genre(s) : Brutal Death metal Origin : Indonesia (Bandung) Band: Outlander Origin : Indonesia (Pontianak,West Borneo) Genre(s) : Slamming Brutal Death DEAD SQUAD - Horor Vision (2009) Indonesia (Jakarta) Genre(s) : Tech. Brutal Death Morbid Angel - 1989 -Abominations of Desolation Morbid Angel - 1991 - Blessed Are The Sick Morbid Angel - (1990) Altars Of Madness Morbid Angel - 1993 - Covenant Morbid Angel - (1995) Domination Morbid Angel - (1996) Entangled in Chaos - (Live) Morbid Angel - (2000) Gateways To Annihilation Morbid Angel - (2002) Tyrants From The Abyss (Tribute to Morbid Angel) Morbid Angel - (2003) Heretic Morbid Angel - (2005) Ignominious - Part REMON INSIDE™ Brutal Music Reviews

Cari Blog Ini

REMON INSIDE™ :
free counters