Sabtu, 12 Maret 2011

Liputan Garage Festival

Jangan ngaku metal kalau nggak
shalat. Ketika Islam berfungsi
sebagai kendali, banyak anak
metal di komunitas underground
menjemput hidayah. Mereka
tidak menolak modernisasi, tapi menjegal westernisasi. Ada
komitmen yang dibangun: No
Drugs, No Alcohol, No Violence
dan No Free sex. Just
Metal.Menjelang malam, anak-
anak metal itu sudah berkumpul di pelataran Gedung Rossi Musik
di Jalan Fatmawati No. 30,
Jakarta Selatan untuk
menyaksikan pagelaran musik
sekaligus penggalangan dana
untuk Palestina. Konser musik yang bertajuk ”Urban Garage Festival” itu diorganize oleh Berandalan Puritan dan Mogers
Infantry.Saat menanti band
kesayangan mereka, azan
Maghrib berkumandang. Siapa
nyana, sebagian dari mereka
berbondong-bondong menuju masjid, lalu segera membasuh
wajah-wajah kumel itu dengan
air wudhu. Sabili turut
menyaksikan, anak-anak metal
tengah merapikan shaftnya
untuk shalat berjamaah. ”Sebagian dari mereka, anak- anak Mogers, sebuah komunitas
fans band metal legendaris
Purgatory,” kata salah seorang komunitas
underground.Performance
mereka memang eksentrik dan
tampak cuek. Sekilas, seperti
individu yang tak mau tahu
dengan urusan agama. Tapi, lihatlah paradigma baru anak
Metal hari ini. Mereka mulai
bangga menunjukkan jatidirinya
sebagai Muslim sejati. Jangan
ngaku anak metal, kalau nggak
shalat. Jangan sok metal kalau masih suka mabok (ngedrugs)
dan free sex. ”Menyedihkan banget, jika anak metal malu
menunjukkan identitasnya
sebagai muslim. Karena gengsi,
mau shalat saja, bilangnya mau
ke depan untuk beli rokok,” tukas Bonty, salah seorang
personil Purgatory.Tak dipungkiri
band metal lahir dari peradaban
Barat yang bobrok. Peradaban
itu memengaruhi jiwa anak-anak
muda yang gelap. Mereka larut menjadi individu yang bingung
menatap masa depan, tertipu
oleh propaganda sesat kaum
laknat, hingga menjadi pemuja
setan, syahwat, anti kemapanan,
bahkan mengabaikan Tuhan. Ketika hidayah Islam datang,
pondasi itu terguncang.

Anak-anak Metal yang terlahir
sebagai Muslim, mulai menyadari,
bahwa mereka secara kultur dan
karakter sudah dijadikan
’ hamba-hamba sahaya’ yang terjajah. Eksistensi tumbuh,
ketika Islam menjadi ideologi,
kesadaran baru dan amaliyah
mereka.Adalah Tengkorak dan
Purgatory, dua kelompok band
metal paling senior dan legendaris di kalangan
underground, tampil sebagai
pendobrak yang mengguncang
ideologi band cadas keluar dari
pakemnya, yakni dengan
menjadikan Islam sebagai nafas hidup mereka. Eksistensi ”sang legend” sebagai agen perubahan menginspirasi generasi metal
selanjutnya. Sebut saja seperti
The Roots of Madinah, Punk
Muslim, AfterMath, Keep it True,
Stranded, Qishash, Salameh
Hamzah, dan Barat Hijau Indonesia.Kesatuan visi inilah
yang mempersaudarakan mereka
sebagai komunitas yang unik dan
berbeda.

Dari sinilah tercetus “Urban Garage Festival”, semacam forum mereka untuk berkumpul dan
berkreasi, bahkan berdakwah
dengan pendekatan yang
mereka pahami. Dalam kapasitas
itu, mereka tak sekadar tampil
sebagai musisi beraliran cadas, melainkan juga sebagai
dai.Kontra KulturTeman-teman
aktivis harokah mungkin merasa
aneh dengan fenomena baru ini.
Namun, bagi yang belum
mengenal komunitas ini dari dekat, jangan su’ udzan dulu, apalagi melempar tuduhan anak
metal melecehkan Islam. Sedikit
yang tahu, bahwa anak metal
pun berdakwah. Komunitas metal
ini memang berbeda dengan
komunitas metal yang lain. Mereka berniat untuk
membentuk genre baru ke arah
yang lebih Islami. Pertanyaan pun
muncul, ini kebangkitan atau
degradasi? Kok Muslim
”bermetal-metal ria”?Wawan, vokalis Aftermath, pernah
berkonsultasi dengan rekan
seniornya seputar stigma buruk
yang dilekatkan pada musisi
metal muslim. ”Setelah berkonsultasi, saya mendapat
jawaban, bahwa segala sesuatu
bergantung niatnya. Saya
melihat fenomena ini sangat
positif.

Apakah salah kalau kami
mendekati ajaran-ajaran yang
mendekati sang Khalik ke arah
yang lebih Islami melalui musik?
Saya sendiri lahir dari keluarga
Muslim,” ungkap Wawan yang juga seorang enginer.Berangkat
sebagai musisi, Wawan mengakui,
sebatas inilah kontribusi yang
bisa ia berikan untuk sementara
waktu. ”Jika hari ini kami memperjuangkan Islam dengan
mick dan gitar, kelak kami akan
berjihad di jalan Allah dengan
pedang dan senjata. Inilah cara
kami memberi makan kepada jiwa
ini melalui musik. Sebagai Muslim, tentu kami memimpikan tatanan
dunia baru, di bawah
kepemimpinan Islam dan khilafah,” ujar Wawan
bersemangat.Menurut penggagas
Urban Garage Festival, Thufail al
Ghifari, yang juga vokalis The
Roots of Madinah, kegiatan
bermusik ini ingin membangun sebuah kontra-kultur untuk
membuktikan, bahwa di
komunitas ini ruangnya positif,
band-bandnya pun bicara atas
dasar Islam. ”Kita berangkat dari seorang Muslim yang punya visi
untuk membangun komunitas
musisi metal yang jauh dari
drugs, alcohol, dan free sex.
Inilah niat dan tujuan kami. Kita
ingin mengembalikan identitas Indonesia atau ketimuran. Jangan
berlagak Amrik. Kita Metal, tapi
ada filter, tidak sampai
tercerabut ketimuran kita
sebagai jatidiri.”Senada dengan vokalis Tengkorak, Ombat.
”Penjajahan budaya oleh Barat memang lewat musik metal kayak
gini, musik underground yang
notebene keras dan brutal.
Terus terang, saat ngeband, kita
banyak lupanya, ya lupa shalat,
lupa diri dan segala macam. Tapi, saat kita sadar, tatkala generasi
ini menjadi santapan empuk
zionis, maka inilah moment untuk
mengubah paradigma lama
menuju paradigma baru.
Ngeband, tapi tetap menjalankan shalat lima waktu, dan rukun
Islam lainnya.”Sejak metal lahir, kata Ombat, propaganda
satanisme menjadi momok dan
berkembang pesat di seluruh
dunia. Ibarat di Medan Perang,
jika musuh memerangi dengan
senjata, maka harus dilawan dengan senjata. Begitu juga, jika
musuh memerangi generasi muda
dengan metal, maka kita lawan
dengan metal pula. ”Melalui metal, kita bisa lakukan
kickback,” kata Ombat.Bonty, personil Purgatory, berpendapat,
dulu walisongo pun
menyampaikan pesan dakwah
dan syiar Islam dengan
menggunakan wayang, sekarang
eranya Metal sebagai media. ”Yang jelas, gue prihatin, jika generasi Islam di Timur Tengah
malah bermetal ria dengan
westernisasi-nya, sedangkan
Purgatory justru ingin
memanfaatkan Metal.”Sebagai musisi Muslim, konsep yang
diusung Purgatory dalam
bermusik cuma satu, yakni Islam.
Prisipnya, Islam bukan dibawa ke
dalam metal, tapi Islam itu dasar
dari semua hal. ”Apapun yang kita lakukan harus berdasarkan
Islam. Artinya, ketika bermusik,
tidak pake yang haram-haram.

Pendekatan dakwah kami, nggak
pake setting ala kelompok
tarbiyah. Kuncinya adalah
silaturahim. Biasanya, suatu
komunitas tidak akan kuat, kalau
silaturahimnya lemah,” tandas Bonty.Gitaris Purgatory ini juga
mempertanyakan, jika pakem
underground itu anti sistem, tapi
kenapa mereka membuat sistem
sendiri, seolah kalau metal harus
mabok. Bagi anak band, awalnya, agama memang dianggap sebagai
sesuatu hal yang privacy
(pribadi). Komunitas Purgatory
yang dinamakan Mogers sendiri,
bukan orang-orang hebat dalam
beragama. ”Kami lebih tepat disebut orang yang hijrah. Di
komunitas ini, kami ingin
mengajak agar generasi muda
kembali pada Islam, dan mau
mempelajari agamanya sendiri.
Apa yang kita sampaikan ke public tentang Islam adalah apa
yang kita tahu saja dan sudah
dibuktikan. Yang jelas, kita tidak
mau melakukan hal yang sia-sia.
Kita hanya ingin belajar.”Pernah ada yang meledek Purgatory
dengan pendekatan dakwahnya
yang unik. ”Ngapain loh ngajak anak-anak yang sudah
berantakan. Padahal untuk
menolong orang yang tenggelam
itu harus nyemplung. Apalagi
pengetahuan agama mereka
diakui sangat kurang,” kata Bonty berfalsafah.Pendekatan
yang sama dilakukan Ahmad Zaki
yang selama ini membina
komunitas Punk Muslim. ”Ketika fase jemu, bingung itu menyatu,
saya mencoba memberikan
banyak alternatif dan energi
positif.

Ternyata mereka welcome dan
punya keinginan untuk bertobat
dan merubah diri. Sebagian ada
yang berubah drastis 80 derajat,
ada juga yang baru 45-60
derajat.”Diakui Zaki, belakangan komunitas Punk Muslim banyak
mengislamkan teman-teman punk
di jalanan. ”Sejak menjadi Muslim, beberapa diantara mereka, ada
yang meninggalkan kebiasaan
Mohawk (gaya rambut berdiri)
dan piercing (tindik di sejumlah
anggota tubuh).

Bahkan, diantara mereka, ada
yang nekad menghilangkan tato
dengan menggunakan soda api
atau PK, kendati resikonya bisa
merusak kulit mereka,” ungkap Zaki.Metal pun BerdakwahIngin
tahu, pendekatan dan model
dakwah yang dilakukan
komunitas metal yang satu ini?
Hasil pengamatan Sabili di sarang
underground, komunitas ini memang berbeda. Dalam hal
performance, kaos-kaos distro
yang mereka yang kenakan,
terutama beberapa vokalis-nya,
justru menunjukkan militansi
dengan identitas keislamannya. Misalnya saja, kata Allahu Akbar
(dalam bahasa Arab) pada kaos
mereka. Pekikan Allahu Akbar
mewarnai ”Urban Garage Festival” malam itu.Lirik-lirik yang mereka muntahkan lewat musik
cadas ini sebagian besar
mengecam sikap barbar Barat
dan zionis Israel terhadap umat
Islam di Palestina dan dunia Islam.
Satu hal, mereka sangat membenci kemunafikan. Beberapa
lirik mereka, ada yang terkesan
”utopia”, sebuah kerinduan tentang khilafah.Juga lihatlah
teaterikal yang diperlihatkan
personil Purgatory dengan
topeng ”monsternya” di atas panggung. Band metal mana yang
melafadzkan kalimah syahadat,
selain yang satu ini. Asyhadualla,
ilaaha illallah. Waasyhadu anna
Muhammadarrasulullah. Nyeleneh?
Tidak. Mereka tidak sedang melecehkan Islam. Inilah cara
dakwah dan syiar Islam yang
mereka pahami. Bukan hanya
syahadat, mereka mengajak fans
yang hadir untuk
bersholawat.Yang menarik, Ombat, sang vokalis band
Tengkorak, tak sungkan
mengajak istrinya yang berjilbab
bergabung di komunitas ini. Saat
berinteraksi, Ombat, bukan
sekadar growling (suara mengeram khas Metal), tapi
layaknya dai yang berdakwah. Ia
mengajak anak-anak muda untuk
bangga sebagai muslim dan tidak
meninggalkan shalat lima waktu.
Bahkan ia mengajak komunitasnya untuk mengubah
posisi tangan metal dengan
telunjuk ke arah langit, sebagai
simbol ketauhidan.Awalnya
mungkin ikut-ikutan, tapi kelak
kesadaran baru itu tumbuh. Ombat yakin, komunitas metal
muslim ini akan menjadi sebuah
jamaah yang besar. ”Ini semua karena hidayah dari Allah.
Sesama Muslim, sejatinya saling
menasehati. Tak soal, jika
bermula dari skala kecil lebih
dulu. Jika berangkat dari yang
besar, biasanya cepat tenggelam. Tapi kalau dipupuk, dari kecil
hingga besar susah punahnya.
Inilah tonggak awal, sejarah baru
dari sebuah komunitas yang
menjadikan Islam sebagai ideologi.
Harus diakui, dulu kita pernah jadi korbannya, maka hari ini kita
tunjukkan, kita metal, tapi tetap
punya otak, punya akidah,” ujar lelaki botak yang berprofesi
sebagai pengacara dari LBH
Muslim ini.Bagaimanapun, harokah
Islam harus menghargai ”ijthad” anak-anak metal yang ingin
menjadikan Islam sebagai pondasi
mereka dalam bermusik. Apalagi,
ketika sebagian uang dari setiap
lembar tiket yang terjual dalam
konser musik itu disumbangkan untuk perjuangan rakyat
Palestina.

Subhanallah. Siapa nyana, dibalik
ruang yang pengap, masih ada
yang menyerukan kebajikan,
kendati dengan cara mereka
sendiri. Tak terbayangkan, di
sebuah komunitas underground, ada pelita yang menerangi jiwa-
jiwa yang gelap. Ketika Islam
menjadi nafas hidupnya, militansi
mereka tak kalah dahsyat
dengan aktivis harokah yang
ada. Insya Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Total Tayangan Laman

theremon666@gmail.com
DOWNLOAD:
VOLTURYON - Coordinated Mutilation (2011) genre:Death orgin:Sweden BENIGHTED - Asylum Cave (2011) genre:Death/Grind orgin:France IMPRECATORY - Mortal Intestines Decay [2005] Genre(s) : Brutal Death metal Origin : Indonesia (Bandung) Band: Outlander Origin : Indonesia (Pontianak,West Borneo) Genre(s) : Slamming Brutal Death DEAD SQUAD - Horor Vision (2009) Indonesia (Jakarta) Genre(s) : Tech. Brutal Death Morbid Angel - 1989 -Abominations of Desolation Morbid Angel - 1991 - Blessed Are The Sick Morbid Angel - (1990) Altars Of Madness Morbid Angel - 1993 - Covenant Morbid Angel - (1995) Domination Morbid Angel - (1996) Entangled in Chaos - (Live) Morbid Angel - (2000) Gateways To Annihilation Morbid Angel - (2002) Tyrants From The Abyss (Tribute to Morbid Angel) Morbid Angel - (2003) Heretic Morbid Angel - (2005) Ignominious - Part REMON INSIDE™ Brutal Music Reviews

Cari Blog Ini

REMON INSIDE™ :
free counters